Langsung ke konten utama

Berbisnis atau Berkarir [Penyesalan dalam Berbisnis di Masa Kuliah]

Disclaimer: Tulisan ini subjektif semata-mata karena kebodohan saya jadi mungkin dapat berbeda kasus dengan orang lain.

Tahun ini menginjak tahun ke-3 saya dalam menjalankan usaha penjualan alat laboratorium, bahan kimia dan jasa analisa laboratorium. Semua saya jalani dari nol dengan modal 50 ribu rupiah dan terlepas dari belenggu beban orang tua sejak bulan ke-6 menjalankan usaha tersebut, hingga saat ini minimal saya dapat memenuhi kebutuhan pribadi yang mencapai kurang lebih 3 juta sebulan: biaya kos, internet, makan dan kebutuhan kuliah.

Success is no accident. It is hard work, perseverance, learning, studying,and sacrifice most of all.

Prinsip tersebut saya pegang selama menjalankan usaha di awal waktu. Tentu saya akan mengorbankan sebagian besar waktu saya dengan dorongan "saya ingin mandiri" yang menggebu, mengingat keluarga di rumah lumayan kesulitan dalam hal finansial dan saya tidak ingin membebani mereka. Membolos di mata kuliah kalkulus dan belajar kurang serius merupakan penyesalan terbesar saya hingga saat ini, indeks saya C. Ya enaknya di ITB, terutama FTI yang sekelas kalkulus mencapai 200 mahasiswa lebih, menjadikan absen bukan menjadi tolok ukur kelulusan mata kuliah tersebut. Saya menggunakan waktu tersebut untuk mencari pasar dan memenuhi kebutuhan penjualan (packaging). Indeks bukan menjadi hal yang saya pikirkan waktu itu, bodo amat yang penting lulus. Dan sialnya, ini melekat pada diri saya ketika jurusan, padahal prinsipnya udah ngga yang penting lulus loh, tapi nilai kok mepet-mepet. Namun saya tetap bersyukur, hampir 100 sks tidak ada mata kuliah yang mengulang meskipun saya sedikit terseok di beberapa mata kuliah yang based on calculus karena basic kalkulus semasa tingkat satu saya yang lemah.


Membungkus orderan siang hari dan mengirimnya di malam hari
Foto di atas diambil sewaktu bolos mata kuliah fisika dasar, diambil oleh Mustofa Anshori, salah satu rekan perjuangan saya sewaktu menjalankan usaha. Bukan rekan sharing modal dan hasil, tapi lebih seperti asisten karena terkadang saya meminta tolong dia untuk berbelanja dan memberikan fee untuk tiap jam kerjanya karena saya ngga mampu bekerja sendiri ketika ada jadwal yang bentrok. Syukurlah ia tidak terjerumus seperti saya, meskipun ada beberapa momen membolos bersama, termasuk di foto ini ketika kami menyusuri jalan Astana Anyar di Kota Bandung untuk berbelanja kardus dan bubble wrap. Dan yang membuat saya bangga, ia sekarang menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Pangan (HMPG) ITB. Ikut bangga, kaderisasi wirausaha di lapangan yang saya ajarkan membuahkan hasil, JK. Oh ya foto ini diambil di depan Luca's Printing, sebuah usaha kebutuhan konveksi. Saya termotivasi dengan kata-kata luca's karena nama usaha awal saya luca's lab, termasuk luca's printing yang saya jalani beberapa bulan untuk memenuhi kebutuhan perprintingan bahan kuliah mahasiswa.

Penyesalan itu baru datang sekarang, tingkat 3 akhir, ketika menyadari IPK tidak mencapai angka yang diharapkan karena keegoisan saya waktu itu, IPK bukan nomer satu. Padahal, beberapa perusahaan minyak dan gas memerlukan IPK minimal 3.5 (maaf yang non ITB gausah nyinyir betapa mudahnya (mungkin) untuk mendapatkan IP sekian di kampus anda karena saya pernah dinyinyirin temen yang kuliah diluar ITB dengan IPnya wkwk dan termasuk testimoni teman saya yang pindah dari kampus tersebut ke ITB, beda sensasi IPnya). Benar, 3.5 untuk perusahaan minyak dan gas seperti Chevron, BP, Pertamina Hulu Mahakam (Ex Total), Exxon Mobil dan lainnya, kecuali Pertamina dan Medco.

Sampai-sampai saya negative thinking ke dosen saya yang memilihkan tempat Kerja Praktek (KP). Saya ditempatkan di Santos Ltd, lapangan gas yang berada di Sampang, Madura. Guyonan Mustofa dengan saya seperti ini "Wah Luc, ini Pak AI (dosen saya) pasti tau masa depanmu ga bakal bisa di perusahaan migas, jadi kamu ditempatin di offshore biar dapat pengalaman hidup yang ga bakal bisa kamu capai". Wahaha kami tertawa terbahak-bahak membahas guyonan ini. Betul juga !!

Rezeki itu Sudah Dijamin
Rezeki ada di langit. Saya mati-matian mengejar rezeki namun ternyata baru sadar beberapa tahun lalu mengenai hal ini. Di awal usaha tentu saya bersemangat karena orderan penjualan saya terus meningkat yang artinya pendapatan saya naik dan tabungan semakin bertambah. Terus-terusan saya berpikir bagaimana mendapatkan pelanggan tetap dengan belanjaan banyak hingga saya 'meneror' pelanggan toko sebelah untuk berbelanja di toko saya dengan memberikan rekomendasi barang dengan harga yang lebih murah dibandingkan di toko yang sedang ia tanyakan (e-commerce). Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran negatif seperti 'duh kok toko itu laris sih' yang pada akhirnya malah menguras pikiran saya padahal rezeki sudah dijamin ! Benar saja, ketika saya menyadari ini, untuk pertama kalinya saya mendapatkan orderan sebesar 66 juta rupiah di salah satu universitas di Jakarta, mengantar puluhan kardus alat laboratorium dengan mobil sewaan yang disopiri oleh kakak tingkat saya, Andi Arseno.


Dan dari sini saya yakin, rezeki itu ada di langit, bukan di tempat kerja, meskipun pendapatan saya kian menurun karena banyak disrupsi pesaing yang mulai memasarkan produknya secara online. Perang harga pun tak bisa dihindarkan. Hal ini membuat saya sadar akan arti bersyukur karena tidak hanya saya yang mengalaminya. Jauh sebelum hal yang saya rasakan tersebut, Unilever berperang pasar dengan P&G tapi tetap survive dalam usahanya. Grab berperang dengan Go-Jek untuk menguasai pasar tapi tetap bisa menafkasi mitra mereka, serta berbagai contoh persaingan usaha yang kian terlihat nyata sehingga para pengusaha harus memberikan value added yang lebih.

Investasi Mengalahkan Effort Kerja
Kuartal akhir tahun 2017 saya terpicu dengan keberadaan bitcoin atau cripto currency. Mata uang digital yang dapat diperjual belikan seperti saham. Nilai derivatifnya punya cukup fantastis, pernah mencapai nilai 800 milyar USD di seluruh dunia. Hal ini membuat saya tertantang untuk menginvestasikan sebagian aset saya ke cripto termasuk bitcoin. Awalnya saya menginvestasikan dua juta rupiah dan saya belanjakan aset XRP (Ripple) yang saat itu bernilai 2800 per koin. Senang bukan kepalang ketika nilainya menjadi 3100 beberapa hari kemudian, bisa dibayangkan 10% dalam tempo singkat !! Hal ini didukung oleh rekan saya Irza Brian Agasta untuk berinvestasi di derivatif ini hingga saya menggelontorkan 90 juta rupiah, hampir 50% dari aset yang saya miliki waktu itu meskipun dalam tempo yang bertahap.

Sabtu, 23 Desember 2017 pukul 20.00. "WTF !! anjir, ini gamungkin" bukannya bersyukur saya malah mengumpat ketika berkendara di jalan Asia Afrika dengan Afif, rekan seangkatan saya. "Fif, aset gua jadi 220 juta, gila cu*k". Saya ngga mengira, koin NXT waktu sore hari jam empat sore 22.000, waktu pukul 20.00 mencapai 34.000, aset saya melonjak drastis. Afif langsung saya traktir makan di salah satu rumah makan dan habis 200 ribu lebih, orang tua saya kirimin uang langsung karena kesenangan saya waktu itu. Yah meskipun itu kesenangan sesaat karena esok hari saya begitu menyesal tidak melepaskan semua aset tersebut sehingga makin lama makin terkikis ketika NXT mencapai jurangnya dan aset saya 90 juta menjadi minus 20 juta, syukurlah hal tersebut come back hampir mendekati 200 juta beberapa minggu kemudian.

220 juta duit beneran
Saya bingung, saya mati-matian mengejar uang dengan kerja keras berjualan, satu tahun lebih saya baru mengumpulkan pendapatan bersih 50 juta rupiah, namun dalam sekejap dengan investasi koin digital mampu meraup 100 juta dalam waktu beberapa bulan saja. Ini ngga adil, seperti tukang sate 13.000 vs sate taichan 30.000, effort sama tapi hasil beda !! Ini contoh ngaco aja sih, permisalannya bisa dibayangkan sendiri aja.

Intinya, effort kerja terkadang tidak sesuai hasil. Inilah ketimpangan ekonomi yang jika ditarik lebih jauh, terjadi di negara kita. Buruh-buruh memiliki jam kerja yang lebih dibandingkan bosnya (kebetulan ayah saya buruh) namun memiliki kenyamanan hidup yang ekstra. Inilah sebenarnya yang menjadi dorongan ideologi sosialis di negara barat dan sekarang begitu terlihat di negara kita dengan ideologi pancasila namun dengan sistem ekonomi yang terlihat seperti kapitalis.

Sudah Tercapai Semua, Mau Apa ?
Sebagai manusia yang diberikan akal dan hawa nafsu, tentu berkeinginan untuk mendapatkan 'mimpi' berupa barang-barang pribadi begitu menggebu. Berbeda dengan orang yang memiliki orang tua tajir, semua kebutuhannya terpenuhi. Saya malah pernah mendengar bahwa seorang mahasiswa mendapatkan uang saku 20 juta per bulan dari orang tuanya hahaha. Yaa.. manusia terlahir dengan keadaan yang berbeda, ada yang sudah kaya ada juga yang cukup. Kan hidup bukan tentang kaya dan miskin, namun kaya dan cukup. Orang yang terus bersyukur akan merasa hidupnya cukup dan tidak iri dengan orang kaya.

Lalu saya bingung, mau apa setelah ini semua tercapai ? meskipun saya belum bisa membeli mobil secara kontan, apalagi rumah, itu semua sudah cukup bagi saya untuk menikmati hari-hari di Kota Bandung. Hal inilah yang menarik pikiran saya untuk kembali fokus ke jenjang karir, suatu hal yang saya lupakan ketika awal merintis usaha

Kesempatan yang Hilang
16 Mei 2018, saya memiliki janji dengan Dr. Rino Mukti, seorang dosen di program studi Kimia ITB. Meskipun dosen Kimia, namun beliau merupakan alumni Teknik Kimia dari TU Munchen. Saya kenal dekat dengan beliau sejak akhir 2016 karena beliau merupakan adik tingkat mentor saya di LIPI, Dr. Anggoro. Saya pun dikenalkan dan mengobrol banyak tentang riset, termasuk zeolit, katalis dan adsorben yang merupakan bidang penelitian saya saat ini.

Kami ngobrol terkait sistem publikasi ilmiah dengan adanya open access yang berujung pada keinginan untuk publikasi bareng untuk paper review. Sebuah kehormatan bagi saya ketika Pak Rino memercayai saya terhadap pekerjaan besar ini. Dan sampailah pada tawaran beasiswa "Eh kamu nanti ikut PMDSU (Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) aja, seperti Grandprix (doktor termuda) nanti switch ke TU Munchen, saya ada profesor di sana. Yang penting IPK 3,25 gampang lah buat kamu". Jleb, dalam hati saya. IPK yang ngga mudah untuk dicapai saat ini meskipun mendekati nilai tersebut, namun tersisa beberapa puluh SKS saja. Saya ditawri beasiswa S2-S3 oleh orang yang menyeleksinya secara langsung alias keputusan beasiswa PMDSU berada di tangan beliau. Promotor pun gampang untuk dicarikan. Semua sirna ketika prasyarat tersebut hampir mustahil saya gapai. Penyesalan pun kembali berlanjut meskipun saya mampu bekerja dengan beliau untuk hal publikasi ilmiah. Semua kesempatan itu hilang. Lucunya, Pak Rino mengerti sekali keinginan saya sehingga memberikan topik paper yang nyambung dengan bisnis saya. "Kamu kan mau bisnis, jadi biar nyambung", WA Pak Rino kepada saya yang membuat saya bersemangat untuk nulis paper. Oh ya semoga Pak Rino ngga baca ini hehe

Foto dengan Dr. Rino Mukti ketika membahas molecular sieve, diambil pada Desember 2016

Rupiah dan Effort Kerja

Alhamdulillah, salah satu mimpi saya ketika awal masuk ITB terwujud, yakni menang lomba yang ternyata saya diberikan kenikmatan lebih untuk mengunjungi Kota Paris. Liburan iya, beban juga iya. Namun itu membuat saya belajar dan mengamati sebuah hal yang sebelumnya saya ngga notice. Nilai rupiah kita yang lemah dibandingkan USD ataupun Euro. Bayangkan, untuk naik Metro (seperti MRT di Jakarta), harus merogoh kocek 1,9 euro atau sekitar 34 ribu rupiah itupun hanya untuk tempuhan 1-3 km saja. Itu baru transportasi saja, untuk Uber bahkan mencapai 150 ribu rupiah untuk jarak 1,4 kilometer dan makan berat mencapai 500 ribu rupiah. Ya memang biaya hidup di Kota Paris itu mahal, namun saya mencoba mencari benang merahnya.




Saya jadi curiga, teknologi di Indonesia itu sulit berkembang karena untuk melakukan riset atau membeli barang kebutuhan riset, kita dituntut lebih bekerja keras dengan rupiah yang lemah itu. Intinya, bandingkan saja dengan amerika yang mampu menggelontorkan 20 triliun lebih hanya untuk anggaran belanja riset antariksa, sedangkan untuk Indonesia bahkan tidak sampai 2 triliun. Apa artinya ? Effort kerja di Indonesia tidak sebanding di luar negeri, termasuk karena currency value dan berbagai faktor lainnya. Lalu apa solusinya agar usaha kerja sebanding dengan hasil ? Kerja di luar negeri !! Loh iya, kakak tingkat saya yang kerja di Lanxess, Jerman mendapatkan gaji 60-80 juta per bulan di bidang R&D.


Tapi ga sesimpel itu karena ini bukan maslaah individu, namun masalah bersama. Hal ini juga yang mendorong saya untuk ingin berkarir dibandingkan berbisnis sepenuhnya. Maksudnya, ketika saya berkarir, saya akan mendapatkan lebih banyak pasar dan kemudahan berbisnis karena saya menguasai bidang pasar tersebut seperti kata Pak Rino di atas.

Waktu bertolak dari Paris ke Jakarta, saya bersebelahan dengan seorang pelayan restoran bernama Sebastian yang memiliki agenda liburan di Bali dan Lombok selama sebulan. Dalam hati saya mengumpat, "anjir bule enak banget ya kerja pelayan restoran tapi tajir". Contoh lain yaitu Vladimir sebagai supir pesanan yang mampu memiliki saving 1000 euro atau mendekati 20 juta rupiah, itu saving lho, sudah dipotong kebutuhan hidup sebulan, bayangkan saja gaji kotornya.

Yah, buat apa dong saya bekerja keras di Indonesia, mati-matian membuang waktu untuk fokus menggali dan mengumpulkan uang untuk hal yang jauh lebih ga berharga bagi orang di luar negeri sana. Seharusnya saya investasikan waktu tersebut untuk menggali ilmu !! Yang serius tapi

Berbisnis atau Berkarir
Mungkin ini terlalu subjektif dengan kebodohan saya dalam mengelola waktu sehingga menjadikan akademik saya seperti bumerang dan bom waktu. Saya hanya berpesan, berpikirlah panjang untuk melakukan sesuatu, bukan hanya jangka pendek 1-2 tahun ke depan, namun puluhan tahun ke depan ! Untungnya saya masih muda, yah 21 tahun di 2018 ini. Artinya, saya masih memiliki banyak waktu untuk bangkit dari keterpurukan ini. Untungnya saya belajar dari kesalahan ini bukan di masa tua yang mungkin lebih sulit untuk recovery.

Berbisnis dan berkarir adalah pilihan, dua jalan yang berbeda. Ingin jadi bagian dari korporat atau membangun korporat sendiri. Tidak ada yang salah, yang bilang 'ah ngapain jadi budak korporat', tendang saja itu mulutnya karena dia belum tentu bisa menjadi budak korporat multinasional, udah underestimate aja kayak saya dulu hehe.

Saat ini saya mencoba bangkit dari keterpurukan akademik kuliah dan apatisme saya sejak berkuliah di ITB. Saya diberi amanah menjadi konsultan energi di deputi inovasi strategis, kabinet KM ITB yang ditunjuk langsung oleh deputinya. Saya memanfaatkan amanah ini untuk menggali lebih jauh potensi diri saya di bidang keenergian dan mengaplikasikannya langsung dalam bentuk gagasan, ide dan tenaga untuk memberikan kontribusi terutama terhadap society. Saya juga sedang mengerjakan proposal riset SATREPS bersama mahasiswa S2, berkolaborasi dengan Direktur PT. Awina Sinergi Indonesia yang mempercayai kami untuk membuat proposal yang harus bersinergi antara akademisi-industri-pemerintah dengan pembimbing Dr. Retno Gumilang Dewi dari Pusat Kebijakan Energi ITB. Selain itu saya sibuk mengembangkan writing platform dengan nama Kasakata yang bisa diakses di https://kasakata.id

Masa depan tidak ada yang tahu, terkadang di atas maupun di bawah (dalam hal finansial). Investasi ilmu dan relasi adalah hal yang paling berharga dibandingkan dengan investasi aset itu sendiri ! Dan ingat, rezeki ada di langit, bukan tempat kerja ! Oh ya standar kepuasan manusia juga berbeda, ada yang puas ketika memiliki uang banyak namun ada yang merasa cukup dengan yang ia dimilikinya. Bersyukur menjadi kunci utama dalam menikmati hidup. Semua yang terjadi ya sudah ga perlu disesali lagi karena tidak akan menyelesaikan masalah.

Tidak perlu menyesali bukan berarti tidak merasa menyesal. Rasa itu tetap ada namun dapat tercover faktor lainnya misalnya insting oportunis saya yang saya rasa semakin meningkat jika dibandingkan dari awal merintis usaha. Insting ini salah satu yang penting untuk bertahan hidup jikalau sulit mendapat pekerjaan karena pada dasarnya, lelaki itu harus bisa dagang !

Hmm kalau dirangkum dalam quote mungkin seperti ini
time: you can't keep it but you can spend it.



Bandung,
28 Mei 2018

Komentar

Popular Posts

Liburan Sebulan di Kampung Halaman dengan Pendapatan 350 Juta #1

Menjajal Kereta Gerbong Wisata Prioritas

Kere Hore di Era Digital dan IoT