Langsung ke konten utama

Santos Ltd: Perusahaan Multinasional yang Menyokong Kebutuhan Gas di Indonesia

Offshore gas processing. Sumber: santos.co.id
Mungkin banyak yang kurang familiar dengan nama PT. Santos atau Santos Ltd. ini. Santos sendiri merupakan singkatan dari dari South Australia Northern Territory Oil Search. Dari namanya sudah dapat ditebak bahwa perusahaan ini berasal dari Australia, tepatnya berkantor pusat di Adelaide, Australia Selatan. Perusahaan energi ini telah berdiri sejak 1954 dan menjadi perusahaan swasta di bidang oil & gas terbesar kedua di Australia yang memiliki wilayah kerja di Australia, Asia hingga Papua New Guinea.

Peta produksi oil&gas Santos Ltd.
Entah mengapa saya sedikit merasakan euforia sebagai karyawan, meskipun berstatus On Job Training (OJT) di perusahaan oil & gas multinasional ini. Kerja di Sudirman, kawasan elit perkantoran di Jakarta tepatnya di tower Ratu Plaza lantai 4, hal ini tentu saja membuat saya begitu excited untuk menuai ilmu dan juga memberikan kontribusi bagi perusahaan. Ya ngga tau sih akan berkontribusi seperti apa dalam tiga bulan kedepan, apakah hanya menjadi beban perusahaan untuk menyelesaikan dua SKS mata kuliah TK4090 atau bahkan dapat memberikan solusi bagi perusahaan.

Saya resmi berstatus OJT di divisi Project Development per tanggal 31 Mei hingga 31 Agustus 2018. Duh, sialnya saya kebagian rentang kerja yang benar-benar full, berbeda dengan beberapa rekan seangkatan saya yang ada di perusahaan lain. Bahkan, ada yang cuma satu bulan menjalani kerja praktek. Konsekuensinya, waktu libur saya akan tersita banyak. Namun saya bersyukur, pastinya akan menambah pengalaman, koneksi dan ilmu saya kedepan dalam jangka yang panjang.

Kantor pusaat Santos di Adelaide
Santos di Indonesia

Santos merupakan salah satu operator di blok Northwest Natuna dan Madura Offshore dengan sistem kontrak PSC (Production Sharing Contract) atau bagi hasil. Berikut merupakan rincian pembagian kerja di masing-masing blok.
  • Sampang Offshore PSC
Santos (45% and operator), Singapore Petroleum Sampang Ltd (40%), Cue Sampang Pty Ltd (15%).
  • Madura Offshore PSC
Santos (67.5% and operator), Petronas Carigali (Madura) Ltd (22.5%), PT Petrogas Pantai Madura (10%).
  • Northwest Natuna PSC
Santos 50% berdasarkan kontrak PSC pada tahun 2013.

Madura

Santos Ltd. berinvestasi di Indonesia sejak tahun 1996 yang dimulai dengan kegiatan eksplorasi hingga mendapatkan potensi gas alam di blok Madura Offshore, tepatnya di lapangan Maleo pada tahun 2002 dan mulai produksi pada tahun 2006 dengan cadangan gas proved dan probable sebesar 240 bcf (billion cubic feet). Dilanjutkan dengan penemuan potensi minyak dan gas di lapangan Oyong yang mulai produksi pada tahun 2007 untuk minyak dan dilanjutkan 2009 untuk eksploitasi gas alam. Hingga pada akhirnya produksi di lapangan ke-3 di wilayah tersebut yaitu Wortel field yang mulai produksi pada tahun 2012. Pengembangan kembali dari Lapangan Maleo menggunakan horizontal gas well pada tahun 2014 didapatkan satu sumur baru yang diberi nama Lapangan Peluang. Kedua lapangan ini menuju offshore gas producing yang disebut dengan MPP (Maleo Producer Platform).

Wilayah kerja Madura Offshore
Uniknya, kedua lapangan gas yakni Oyong dan Wortel merupakan sweet gas yang berarti memiliki kadar kontaminan yang sangat rendah. Hal ini membuat proses produksinya tidak terlalu sulit karena tidak perlu memisahkan pengotor-pengotor berupa acid gas seperti CO2 dan H2S sehingga sumur di lapangan tersebut hanya berupa well head yang langsung diekspor melalui pipa bawah laut ke pabrik Grati. Adapun pengotor berupa kandungan air di dalam gas tersebut akan diproses lebih lanjut di pabrik pengolahan yang berada di Grati, Pasuruan.

Grati OPF (Onshore Production Facility). Sumber: http://santos.co.id/our-rig-detail/opf-grati---santos-sampang-psc-/3
Pipa sepanjang 60 kilometer yang menghubungkan lapangan Wortel dan Oyong ke Grati, Pasuruan digunakan PT. Indonesia Power untuk memproduksi listrik. Adapun kapasitas pengolahan gas di darat (Onshore gas processing) memiliki kapasitas sebesar 95 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day). Sementara itu, lapangan Maleo memiliki karakteristik yang berbeda dengan adanya kandungan acid gas yang harus diolah terlebi dahulu. Dikarenakan jaraknya yang cukup jauh dengan daratan, pengolahan gasnya dilakukan di tengah laut (Offshore gas processing) sehingga wilayah kerjanya berupa jackup rig atau anjungan lepas pantai yang memiliki berbegai peralatan proses di atasnya dengan bahan baku berupa raw natural gas yang berasal dari enam wellhead.

Madura Offshore PSC. Sumber: https://www.slideshare.net/SantosLtd/santos-indonesia-2014-linked-in
Lapangan baru yang akan segera digarap, masih di blok Madura Offshore yaitu lapangan Meliwis. Ini sebagai tindak lanjut atas persetujuan proposal pengembangan lapangan (Plan of Development/PoD) dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas). Sebelumnya, pengeboran telah dilakukan di dua sumur pada tahun 2016 namun hanya satu sumur yang memiliki potensi cadangan migas. Santos tengah mencari pembeli gas dan kondensat hasil produksi Lapangan Meliwis sebelum melakukan pembangunan fasilitas produksinya. Targetnya, awal 2019 lapangan ke-4 Santos di Indonesia ini akan produksi untuk menambah kebutuhan gas di Indonesia.

Natuna

Natuna merupakan surga gas alam di Indonesia, bahkan dunia. Proyek di wilayah kerja Northwest Natuna dengan nama lapangan Ande-Ande Lumut masih sudah mencapai babak lelang yang berarti kegiatan eksplorasi telah selesai dan dipastikan terdapat gas di bawah permukaan bawah laut yang siap diproduksi. Adapun total nilai investasi di wilayah kerja ini mencapai 12 triliun rupiah yang diperkirakan akan mulai berproduksi pada tahun 2019. Lapangan tersebut ditaksir mengandung cadangan terbukti dan terduga (proved and probable) sekitar 100 juta barel minyak yang ditemukan pada tahun 2000, kemudian dilakukan pengeboran sumur pada 2006.

Sumber: https://www.santos.com/media-centre

Penyokong Kebutuhan Energi Domestik

Adanya Santos di Indonesia merupakan pendukung kebutuhan energi domestik, terutama di Jawa Timur. Adanya Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) antara Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) Santos (Sampang) Pty Ltd dengan PT Indonesia Power memberikan akses energi sebesar 29 BBTUD (billion Britis thermal unit per day) selama sepuluh tahun, dimulai pada tahun 2009.

Santos memiliki peran besar terhadap kebutuhan energi listrik di wilayah Jawa Timur dengan menyuplai gas kepada Perusahaan Gas Negara (PGN) yang akan disalurkan ke PLN untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang terletak di Grati. Adapun harga gas yang disuplai untuk PGN berkisar US$ 6,4 per million british thermal unit (mmtbu). Suplai gas ini sanggup memasok tiga gas turbin (combined cycle) blok 1 masing-masing sebesar 100 Megawatt (MW). Sedangkan blok 2 (open cycle) berfungsi sebagai pemikul beban puncak (peaker) menggunakan bahan bakar solar.

Data-data yang saya peroleh dari artikel ini sebagian besar berasal dari internet dan 20% dari hasil diskusi dengan perusahaan. Kedepannya saya ingin berbagi pengalaman mengenai pengalaman OJT di perusahaan ini namun tentunya dengan izin dari supervisor di sana


Sumber dan referensi:



Komentar

Popular Posts

Liburan Sebulan di Kampung Halaman dengan Pendapatan 350 Juta #1

Menjajal Kereta Gerbong Wisata Prioritas

Kere Hore di Era Digital dan IoT