Langsung ke konten utama

Perjalanan Mencari Makna Kehidupan #Prolog

Zurich, Jul 2019. Dokumentasi Pribadi

Tired of lying in the sunshine staying home to watch the rain.
You are young and life is long and there is time to kill today. 
And then one day you find ten years have got behind you. 
No one told you when to run, you missed the starting gun.
Waters, and Richard Wright of Pink Floyd, "Time"

Almost invariably, growth and development has what’s called a critical period. There’s a particular period of maturation in which, with external stimulation of the appropriate kind, the capacity will pretty suddenly develop and mature. Before that and later than that, it’s either harder or impossible
-Noam Chomsky, linguist

Kehidupan pasca kuliah, twentysomething, membuat saya berpikir keras dalam memaknai arti kehidupan. Terlebih, saya telah memilih profesi self-employed dengan menambahkan bumbu corporate dengan menjadi independent consultant. Tidak ada kegiatan rutin dalam hidup saya pasca kuliah. Bangun pukul delapan pagi, berangkat ke kantor pukul sepuluh pagi hingga mulai bekerja pukul sebelas pagi, membuat saya memiliki banyak waktu untuk mencoba memaknai kehidupan. Bukan secara tiba-tiba, ada sebab yang membuat pikiran saya overwhelmed mengenai hal ini, kegagalan. Tidak sedikit orang berani mengambil risiko dalam hidupnya karena takut gagal, namun mengapa cukup banyak orang yang justru berhasil? semua tentu ada jawabannya. Saya menemukan jawaban versi saya di umur 22 tahun 9 bulan.

2011-2013, Titik Minimum

Pailitnya usaha orang tua saya di tahun 2011 di Madiun membuat kehidupan saya cukup berantakan. Saya dititipkan di Pamekasan, Madura untuk melanjutkan pendidikan di kelas sembilan SMP, jauh dengan orang tua pertama kalinya, empat bulan berturut-turut. Ibu dan adik saya di Kota Surakarta, ada sebuah rumah saudara yang tidak ditempati sedangkan ayah bekerja di Papua. Secepat ini Tuhan membalik kehidupan, memisahkan keluarga di tiga tempat berbeda untuk menyambung kehidupan yang saya alami di umur 14 tahun. Di tahun 2012 saya bisa berkumpul dengan Ibu saya dan melanjutkan pendidikan di SMA 1 Surakarta dan kehidupan mulai memiliki rasa.

2013-2015, Titik Stationer

Penghasilan ayah saya waktu itu hanya 3 juta, untuk menghidupi 3 anggota keluarga lainnya, termasuk pendidikan saya. Di tahun 2013, saya mengambil arus yang berlawanan, saya meninggalkan fokus saya mengejar nilai rapor yang kebanyakan siswa waktu itu lakukan. Saya memilih untuk berkompetisi, mencari hadiah uang ketika menjuarainya dengan target memenuhi biaya SPP 300 ribu per bulan. Akhir 2013 saya dikenalkan dengan dua orang dosen universitas swasta, Pak Andang Arifwibawa dosen pertanian dan Bu Peni Pujiastuti dosen farmasi. Mereka membimbing saya untuk membuat karya ilmiah di bidang farmasi: fitokimia dan mikrobiologi. Sebuah karya dengan waktu pengerjaan satu bulan, memberikan pemasukan lebih dari enam juta dan sekolah memberikan keringanan SPP menjadi setengahnya. 


Dilanjutkan dengan sebuah esai, memberikan kontribusi terhadap saya dan keluarga sebesar tiga juta yang juga membuat saya tertarik mempelajari energi terbarukan. Puncaknya, di awal 2014 saya ditransfer ke universitas negeri yang merupakan pembimbing dari dosen pembimbing saya dari universitas swasta tadi, Dr. Pranoto dan Pak Candra, dosen Kimia FMIPA UNS. Mereka berdua membimbing saya hingga saya menyelesaikan sebuah penelitian inorganic chemistry dan tercetak dalam Prosiding Seminar Industri Hijau, Kementerian Perindustrian di tahun 2014 yang baru saya sadari di tahun 2018 ternyata saya satu prosiding dan judul saya tepat di bawah dosen saya, Prof Johnner. 

Tidak berhenti dari situ, saya membuat proposal dari hasil penelitian tersebut, bersaing dengan seribu proposal lainnya untuk mendapatkan fasilitas penelitian di LIPI. Saya mendapatkan pembimbing baru, Dr. Anggoro, peneliti puslit Geoteknologi LIPI. Bulan ramadhan saya habiskan di bawah bimbingan beliau di Bandung. Hasilnya, saya menjuarai kompetisi karya ilmiah LKIR LIPI dan mendapatkan tiket ke Pittsburgh, Amerika untuk bersaing di ajang science fair internasional, Intel ISEF. Untungnya, saya menjuarainya, surat sakti rekomendasi untuk masuk FTI ITB saya kantongi. Arus yang saya lawan ternyata bermuara di ujung yang sama.

2015-2019,  Titik  Balik

Orang tua saya tidak yakin saya dapat survive di Bandung dengan biaya hidup yang tinggi dan kondisi finansial keluarga yang ala kadarnya. Saya berinisiatif untuk membuka bisnis alat laboratorium dengan basic pengetahuan yang saya dapat di fasa stationer. Semua berjalan lancar, saya dapat mandiri di semester kedua terlebih saya merupakan beswan Bidikmisi sehingga tidak memikirkan biaya UKT. Namun, prestasi saya pertaruhkan untuk kemandirian finansial. Saya selesai TPB dengan IP 2,61 jauh di bawah rata-rata jurusan Teknik Kimia yang saya ketahui 3,3 waktu itu. Syukurlah, Tuhan memberikan jalan-Nya.

Ketertarikan saya terhadap energi terbarukan, membuat saya terus mempelajari dinamikanya baik history maupun development saat ini. Puncaknya, di tahun 2017 saya menjuarai kompetisi blogging IEA-ESDM di acara EBTKE Connex yang membawa saya mengunjungi IEA dan OECD di Paris pada tahun 2018. Bisnis alat laboratorium saya terus berjalan, menjajaki pengadaan di universitas dan industri. Cashflow menyentuh nilai satu miliar namun tetap sama, IPK saya belum menyentuh angka 3,00 namun syukur saya tidak ada mata kuliah yang harus mengulang, semua lulus meskipun indeks seperti rantai karbon yang jika disusun akan membentuk molekul Hexadecane !!

Bisnis tersebut mulai surut, persaingan makin ketat. Di tahun 2018, saya membuat bisnis baru di bidang waste management dengan produk utama mesin insinerator. Dipesan oleh Bupati Bandung Barat dengan nilai transaksi ratusan juta. Saya mendirikan perusahaan, PT Resikel Global Techindo, saya balut dengan bumbu startup, hasilnya $18,000 hibah dari Shell Ltd dan saya dinobatkan sebagai Top Ten Innovators 2019 Shell LiveWire Global. Bumbu startup saya lengkapi dengan corporate intrapreneurship. Saya mewakili Indonesia dalam technical seminar on waste management di Jerman selama satu pekan pada Bulan Juni. Terpilih 19 expertise dan pengusaha di bidang waste management dari 96 applicant. Saya termuda saat itu 22 tahun, termuda berikutnya 36 tahun dan yang paling senior 60 tahun. Di bulan Juli, saya mendapatkan beasiswa dari Temasek untuk mengikuti summer program di NUS Singapura selama dua pekan di bawah pengajar profesor Standord dan mendapatkan suasana ekosistem startup ala Singapura.

Saya lulus di Bulan Oktober 2019, tepat waktu, IPK 2,75. 

2020, Memaknai Kehidupan

Seperti teman-teman pada umumnya, saya melamar pekerjaan di banyak tempat. Gagal, gagal dan gagal. Saya kira CV saya sudah cukup sakti untuk membuat saya berkesempatan berkontribusi di perusahaan nasional maupun multinasional. Namun, Tuhan memberikan jalan lainnya. Inilah waktu yang sangat baik untuk memaknai kehidupan, twentysomething is matter. Tuhan telah memberikan banyak 'Talenta' (Matius 25:25) dalam takdir-Nya (HR. Muslim). Bukan sebuah kebetulan, this how the world works.

#Bersambung

Komentar

  1. Tetap bersemangat...dan selalu mencari cara memotivasi diri untuk terus berpikir positif

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Cara Legal Download Jurnal Elsevier dengan Akun Email Universitas

Kumpulan Karya Ilmiah dan Essay #3

Target dalam Pembuatan Karya Ilmiah