Langsung ke konten utama

Paris Diary: Day 0

Cerita ini mungkin agak membosankan, saya akan ceritakan keseluruhan apa yang masih saya ingat karena memang salah satu tujuan di blog ini sebagai database pengalaman hidup saya. Tapi saya coba rangkum agar tetap ada hal positif yang bisa diambil sembari berlatih dialektika, pengen punya novel tapi kok bahasa kaku banget hahaha. Terlebih, saya tidak ingin menunda-nunda tulisan ini karena biasanya apa yang saya tunda malah tidak jadi dikerjakan alias saya tidak mau dihantui penyesalan.




Bandung, D-4 sd D-1

Pengalaman pertama bagi saya untuk mengemas barang bawaan menggunakan koper yang cukup besar pagi itu, 29". Manajemen waktu yang amburadul membuat saya harus ekstra usaha di detik-detik keberangkatan. Sebenarnya persiapan ini sudah bisa dilakukan sebulan sebelum keberangkatan saya ke Paris, tepatnya 10 April dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng. Terakhir kali seperti ini waktu kelas XII SMA saat persiapan ke Pittsburgh, ada Ibu yang mempersiapkan semuanya. Yah seperti itulah, kemandirian yang menuju angka satu di usia yang semakin meningkat, maksudnya tidak ada campur tangan orang tua lagi dalam mempersiapkan kebutuhan pribadi bahkan nanti akan sebaliknya di masa tua mereka. Padatnya perkuliahan, terlebih semester ini sudah mengambil final project atau tugas akhir atau skripsi yang sebesarnya cukup menyita banyak waktu. Semua agenda saya sudah saya jadwalkan; persiapan ke Paris setelah seminar proposal pertama, 13 April 2018. Setelahnya, kukejar semua kebutuhan dan bahan presentasi di Paris.

Ternyata tidak mudah, ide presentasi bahkan baru muncul pada Sabtu pagi. Kan memang, ide yang ada di dalam tempurung kepala manusia dapat berasal dari dalam maupun luar. Kalau saya kemarin literally dari luar setelah mengeluh dan ingin berteriak dalam hati, "Harus bagaimana ini?!". Syukurlah, saya teringat sewaktu diskusi -brainstorming- dengan Mas Bagus, alumni Magister Teknik Kimia ITB. Entah suatu kebetulan atau tidak, jalur berupa mata kuliah pilihan yang saya pilih selama berkuliah di Teknik Kimia ITB sangat membantu saya dalam mendapatkan relasi yang saling menguntungkan, misalnya mas Bagus ini. Saya bertemu dengan Mas Bagus di mata kuliah TK5009 - Kimia dan Teknologi Batubara, memang agak jarang kelas ini di mana S1 dan S2 menjadi teman sekelas bahkan porsinya lebih banyak S2.

Singkat cerita, di hari Rabu 12 April 2018 kami bercengkrama di depan labtek biru yang kebetulan lagi mati listrik. Kami ngobrol ngalor-ngidul tentang kemahasiswaan hingga karir yang ujungnya saya curhat mengenai cita-cita saya yang memiliki sebuah outlook yang sangat berguna untuk khalayak banyak. Dia merespon "Aku juga bikin outlook bareng Bu Gelang untuk project CCS dengan Pak Ucok Perminyakan". Saya gali lebih dalam lagi dan bercerita mengenai kewajiban saya untuk mempresentasikan mengenai masa depan mobil listrik di Indonesia. Saya benar-benar bingung waktu itu, topik apa lah ini, masa saya jadi cenayang untuk memprediksi dan beropini dengan sumber yang sangat sedikit. Namun kata kunci yang saya dapat: Simulasi, CO2, End-Use model.

Tiga hari kemudian saya ke Jakarta ada urusan pekerjaan. Pulangnya saya merenung di kereta dan terpikirkan untuk mensimulasikan data-data yang telah saya peroleh, minimal saya tau mobil listrik ini ada masa depannya hahaha. Ceritalah saya ke Mas Bagus via WA, ternyata yang mensimulasikan bukan dia, namun rekannya yang memiliki project bersama Bu Gelang, selaku pengembang tools software End-Use. Baiknya, saya juga mengenal rekan tersebut, Mba Zakiah, saat saya mengambil mata kuliah TK5009. Saya langsung kontak via WA dan sorenya langsung ketemu untuk membahas apa yang saya perlukan. Alhamdulillah, memang ya setiap kesulitas pasti ada kemudahan. Saya diajarkan menggunakan tools tersebut hingga mendapatkan hasil simulasi yang dibantu Mba Zakiah. Saya tidak perlu menceritakan detil prosesnya, hasil simulasi dan PPT yang saya presentasikan di IEA Paris dapat dilihat di tautan berikut. PPT ini baru fix setelah saya transit di Singapore dan pembuatan narasi yang ingin saya presentasikan saya buat selama di atas benua Asia-Eropa, wedew.





Kembali ke masalah koper, ini saya lakukan secara paralel dengan simulasi. Ga paralel juga sih, saya gabisa membelah diri hahaha. Saya baru mendapatkan koper tersebut di hari Senin pagi, 9 April 2018 yang saya beli secara online. Lumayan, harga 500 ribu tapi cukup besar dan kokoh. Cukup kaget ternyata kopernya cuma kepake setengahnya. Sisanya cuma makanan hahaha tapi saya optimis ini bakal kepake.


Setelah barang bawaan ini beres semua, saya skip dengan kartu nama. Sial ! ini hal esensial untuk menjalin relasi dengan orang penting. Syukurlah, rekan seangkatan saya Anastasi Yuandy sedang available untuk membantu membuatkan kartu nama dengan contoh yang saya gambarkan. Memang saya manusia skip !! Kartu nama ini dibuat jam 6.00 dan baru saya cetak 08.00 padahal kereta jam 10.30 !




Setelah memastikan semuanya lengkap, saya berangkat menuju Gambir yang kemudian akan dijemput untuk menuju Bandara. Tidak ada yang spesial dengan perjalanan ini, mungkin jalan-jalan sesaat di main avenue Bandara Changi, Singapore. Untung belum khilaf belanja di sini. Oh ya yang spesial sesaat setelah turun dari pesawat. Ternyata saya duduk tepat di bekang artis Sophia Latjuba, jadi inget jaman SMA sering nonton Tetangga Masa Gitu di NET TV wkwkw mirip suaranya, yx.

Menunggu pesawat di Starbucks CGK


Nuansa Easter Egg di Changi



Sophia Latjuba dan Anaknya

Perjalanan ke Paris memerlukan waktu total hampir enam belas jam. Sejam setengah untuk CGK-SIN dan hampir empat belas jam dari SIN-CDG.  Alhamdulillah mendarat dengan selamat meskiput pilotnya agak freestyle sewaktu mendarat, ngeremnya kejam hahaha




Sekian cerita persiapan ke Paris, cerita selanjutnya mengenai hal-hal yang dilakukan di hari pertama hingga terakhir akan saya sampaikan segera !!


Argo Parahyangan,
17 April 2018

Komentar

Popular Posts

Emas Hitam di Labtek Biru: Teknologi Bersih Batubara melalui Biosolubilisasi

Cerita Tentang Mimpi: Kenikmatan yang Dilebihkan