Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Mimpi: Keikhlasan yang Memudahkan



Sebagian besar orang mungkin sering menuliskan mimpi-mimpinya di dinding, entah karena dari suatu pembelajaran motivasi dari luar atau dari dalam dirinya sendiri; atau bahkan sebuah keluhan untuk memperoleh motivasi yang menjurus ke mimpi. Mimpi tidak melulu harus diseriusi, seperti saya ini yang cuma iseng karena tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan dan cuma modal bismillah saja untuk sekedar melangkah merajut mimpi.



Mimpi ini dimulai sejak masuk kuliah, atau bisa dibilang lanjutan dari mimpi yang sudah tergapai sebelumnya; menjejakan kaki di negeri paman sam. Begitu sombongnya saya waktu itu ketika pulang dari Pitssburgh sembari membawa medali Grand Awards Materials Science yang saya peroleh dari kompetisi Intel ISEF, "Saya pasti bisa melanjutkan ini dan menang di berbagai kompetisi di universitas". Nyatanya, dua proposal PKM dan dua kompetisi engineering hanya memberikan predikat peserta dan finalis. Lama saya merenung, apa ada yang salah dengan diri saya.

Dan itulah skenario yang Allah rangkai sehingga saya memikirkan lebih jauh tentang mimpi saya; saya pun semakin menyadari kalau hidup ini bukan hanya tentang mimpi untuk diri sendiri, tapi tentang usaha, doa, dan kebermanfaatan.

Kalau dibilang saya gemar membaca, ngga juga. Selama kuliah saya cuma menyelesaikan dua buah novel fiksi dan non-fiksi, selebihnya hanya artikel yang dimuat di Insider, Futurism, Curiosity, NYT dan digital news lainnya. Saya milenial yang punya penyakit internet, tak bisa lepas dari dunia maya tersebut misalnya hanya sekedar memperoleh informasi. Tapi itulah yang sebenarnya membuka wawasan saya untuk memperoleh pandangan berupa masalah yang ada di Indonesia.

Seminggu setelah saya mengeluh di instagram, tidak sengaja menemukan publikasi tentang #15HariCeritaEnergi dari kementerian ESDM mengenai energi terbarukan atau renewable energy. Sebuah lomba blogging yang menurut saya tidak jauh dengan apa yang sering saya lakukan sebelumnya; membaca paper dan menuliskannya di tinjauan pustaka. Yang unik di sini, pesertanya 18-30 tahun yang jelas bikin drop karena kemampuan menulis saya tentu jauh di bawah wartawan atau expert kantoran yang sering membuat laporan untuk kantornya. Tapi mungkin ini waktu saya untuk dapat memberikan manfaat, lewat tulisan di blog !! Terlebih ada embel-embel kunjungan ke IEA di Paris.


Saya menghabiskan rata-rata 4-5 jam dalam sehari untuk artikel yang tidak ada pengalaman sekali di topik tersebut dan 2-3 jam untuk artikel dengan pengalaman nyata. Semua artikel tersebut dapat diakses di link berikut : http://www.lucacadalora.id/search/label/%2315HariCeritaEnergi Misalnya untuk topik biogas, saya sudah bercengkrama langsung dengan kegiatan di HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia) ITB sehingga saya dengan mudah mengetahui seluk beluknya ditambah referensi yang lebih kredibel.

Tujuh hari di awal menulis masih lancar-lancar saja, bahkan saya bagi satu topik menjadi 2-3 artikel. Ya itu strategi, biar ga kehabisan tulisan yang penting syarat 800 kata per artikel tercapai tanpa mengganggu flow cerita. Lalu bagaimana saya mendapatkan ide yang lain ? Nonton Youtube dan baca berita, itu saja. Misalnya dari series The Distruptor milik channel The Economist dan lainnya namun masih nyambung dengan topik renewable energyhttps://www.youtube.com/watch?v=AJ38SiVOD78&list=PL0KWoY2XZKw5NaykLH8W-Txgn2dHEL6J3

Style menulis saya cenderung lebih teknis, alias harus ada referensi dan data serta sedikit meniru sudut pandang orang yang saya temui di kaskus. Saya maintain waktu untuk menulis, kebetulan menulis ini dimulai dari 17 Agustus, empat hari sebelum masuk kuliah. Sisanya saya kerjakan waktu hari kosong praktikum dan malam hari hingga 31 Agustus 2017. Menurut saya, kompetisi ini lebih effortless dibandingkan penelitian yang memerlukan waktu panjang dan terkadang gambling apakah proposal yang telah dibuat akan terdanai atau tidak.

Dan hasilnya, dari 400 bloggers disaring 10 finalis untuk menceritakan gagasannya di bidang renewable energy selama 3 menit ! seumur-umur belum pernah merasakan presentasi sesingkat ini, beda dengan pitching startup yang rata-rata cuma segitu. Alhamdulillah, perjuangan tersebut membuahkan hasil, saya diundang ke Balai Kartini di acara EBTKE Connex sembari mempresentasikan gagasan saya tersebut.


Bersambung

Komentar

Posting Komentar

Popular Posts

Liburan Sebulan di Kampung Halaman dengan Pendapatan 350 Juta #1

Menjajal Kereta Gerbong Wisata Prioritas

Kere Hore di Era Digital dan IoT