Langsung ke konten utama

Pengembangan Katalis Melalui Kepemilikan Teknologi Anak Bangsa




Penguatan teknologi untuk meningkatkan kemandirian bangsa sangat penting dilakukan, khususnya di bidang teknologi katalis agar dapat bersaing di era global dan tidak kehilangan jati diri bangsa. Pasalnya, kebutuhan dunia akan katalis mencapai 21 milyar USD yang juga menyokong industri kimia dengan penggunaan katalis tersebut mencapai 11-15 triliyun USD. Hal ini dikarenakan katalis memegang peran sangat penting dalam penyelenggaraan proses kimia. Hampir setiap produk industri kimia dihasilkan melalui proses yang memanfaatkan proses katalisis. Kebutuhan dalam negeri akan katalis juga cukup besar, diperkirakan mencapai 50 juta USD yang hampir seluruhnya diimpor dari luar negeri, sisanya merupakan produksi dalam negeri dengan lisensi asing.

Singkatnya, katalis dapat didefinisikan sebagai zat yang mempercepat dan mengarahkan reaksi. Dengan adanya katalis, reaksi dapat diselenggarakan pada kondisi yang lebih lunak baik temperatur dan tekanan rendah. Kemampuan tersebut seakan menjadi kebutuhan pokok penyelenggaraan proses kimia untuk memenuhi tuntutan efisiensi waktu, bahan baku, energi, maupun pelestarian lingkungan. Dalam memengaruhi reaksi, katalis bukan sekedar hadir, tetapi harus mengadakan kontak dengan reaktan-reaktan yang terlibat reaksi. Reaksi pada dasarnya merupakan penyusunan baik pemutusan maupun pembentukan ikatan atom dalam molekul-molekul reaktan sehingga diperoleh molekul dengan struktur kimia berbeda dari reaktannya yang kemudian disebut dengan produk. Katalis dapat mempercepat reaksi kimia mencapai kesetimbangan yang menurut hukum termodinamika dapat berlangsung.

Sasaran akhir dalam penelitian dan pengembangan katalis yaitu merangcang katalis dengan kinerja yang baik, yakni : aktif, selektif, stabil dan murah, sehingga dapat digunakan di industri. Penguasaan teknologi produksi katalis memiliki nilai sangat strategi bagi ekonomi suatu negara. Dalam pengembangan katalis di Indonesia saat ini, kolaborasi antara lembaga penelitian maupun perguruan tinggi dengan industri sangat perlu dilakukan untuk menghasilkan formula katalis yang dapat menyaingi katalis komersil impor. Aspek ekonomi menjadi alasan besar suatu industri untuk mengimpor katalis dikarenakan lebih murah dan praktis. Terlebih, biaya riset untuk pengembangan katalis memerlukan biaya yang tidak sedikit dan memerlukan waktu yang panjang. Bayangkan, dalam penemuan katalis sintesis amoniak (NH3), Mitash dan para koleganya harus menguji sekitar 20.000 kandidat katalis pada tahun 1910. Sulitnya pengembangan teknologi ini membuat perusahaan teknologi katalis memonopoli pengembangan hasil risetnya dengan menjualnya dalam bentuk lisensi teknologi dan hanya 40% yang dijual bebas di pasaran. Kenyataan inilah yang mendorong Indonesia untuk berusaha mandiri di bidang katalis

Milestone Pengembangan Katalis Dalam Negeri

Dalam orasi ilmiahnya di Aula Barat ITB, Sabtu (2/2/2018), Prof. Subagjo menyampaikan bahwa upaya untuk membangun kerjasama dengan industri dimulai sejak tahun 1985. Diawali dengan pengembangan katalis zeolit bersama Prof. Sudarno Harjo Suparto untuk perengkahan stearin yang saat itu merupakan sisa pabrik minyak goreng dan belum dimanfaatkan dengan baik. Topik penelitian tersebut ditawarkan kepada PT. Pertamina untuk dikembangkan bersama tetapi ditolak karena tidak menguntungkan.

Sepuluh tahun berselang, Prof. Subagjo bersama dengan Dr. Tatang Hernas bertemu dengan direktur litbang PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM). Berbeda dengan dekade sebelumnya di mana pihak ITB yang menawarkan kerjasama, PT. PIM malah memberikan tantangan untuk pengembangan adsorben H2S yang sebelumnya diimpor dari Amerika. Alhasil pada tahun 1999, tim penelitian Prof. Subagjo memperoleh formula adsorben dengan kinerja yang baik bahkan memilkiki kapasitas 2 kali lipat dari adsorben yang selama ini diimpor. Adsorben berbasis besi oksida tersebut diberi nama PIMIT-B1.

Capaian yang luar biasa tersebut seakan membuka jalan untuk penelitian lainnya. Pada tahun 2000, Prof. Subagjo bersama dengan IGBN Makertihartha dan Dr. Melia Laniwati, diminta membantu PT. Pertamina untuk melakukan evaluasi dan seleksi katalis Atmospheric Residue Hydrodemetalization. Formula katalis yang diberi nama PK 100 HS berhasil didapatkan pada tahun 2007 yang juga merupakan katalis merah putih pertama ternyata mampu menyaingi katalis komersial impor

Pada tahun 2010, bersama dengan R&D Pertamina, Prof. Subagjo telah menyiapkan nama katalis PITN 100-2T, yang berarti katalis Pertamina-ITB untuk treating Nafta (PITN) dengan komponen aktif nikel molibdenum tanpa promotor (100) yang berbentuk trilobe berukuran 2mm (2T). 2011, katalis tersebut diujikan pada reaktor hydrotreating di kilang Dumai Pertamina untuk mengolah naftar umpan platformer. Setahun kemudian, katalis dinyatakan terbukti memiliki unjuk kerja yang baik (aktivitas dan stabilitas) daripada katalis impor yang sebelum ini digunakan pada unit tersebut. Sejak keberhasilan tersebut, Pertamina memutuskan untuk selalu menggunakan katalis hasil pengembangan ITB-Pertamina untuk proses hydrotreating, baik untuk nafta, kerosis maupun diesel.

Penelitian maupun pengembangan katalis demi memenuhi kebutuhan dalam negeri terus dilakukan. Pengembangan berupa modifikasi PITN 100-2T untuk meningkatkan unjuk kerjanya dan juga menekan biaya produksi. Dengan penambahan komponen promotor dan berbulan-bulan pengembangannya, lahirlah katalis PITD 120-1,3T yang berarti katalis Pertamina-ITB untuk treating diesel (PITD), berkomponen aktif nikel-molibdenum dan berpromotor tunggal (120), berbentuk trilobe dan berukuran 1,3mm (1,3T). Katalis tersebut digunakan untuk mengolah bahan baku solar di kilang Dumai yang bekerja baik hingga saat ini. 

2015, Laboratorium Teknik Reaksi Kimia (TRK) berhasil mengembangkan katalis untuk hidrodeoksigenasi minyak nabati. Proses tersebut mengkonversi minyak nabati menjadi hidrokarbon parafinik. Dengan umpan berupa minyak sawit, dengan katalis PIDO 130-1,3T mampu dihasilkan green diesel bernilai setana 80, dan apabila menggunakan minyak inti sawit atau minyak kelapa makan dihasilkan kerosin parafinik yang merupakan bahan baku bio-avtur.

Penelitian dan pengembangan masih terus dilakukan hingga saat ini. Pengembangan proses dan katalis Fischer Tropsch, perengkahan katalitik (FCC) untuk memenuhi kebutuhan pertamina yang mencapai 30 ton/hari, perengkahan katalitik untuk memproduksi green gasoline dari minyak sawit, hingga katalis hidrogenasi 2 etil hexenal untuk memproduksi 2 etil hexanol yakni produk antara untuk bahan baku industri polimer. 

Penguatan teknologi untuk memperkuat teknologi milik bangsa yang berujung pada kontribusi bangsa untuk memenuhi sendiri berbagai keperluannya sehingga mengurangi impor. Pengurangan impor berarti menurunkan ketergantungan terhadap teknologi asing dan membuktikan bahwa Indonesia siap bersaing di era global.


Bahan rujukan :

Buku orasi ilmiah Prof. Subagjo, Merintis Kemanfirian bangsa Dalam Teknologi Katalis

https://www.youtube.com/watch?v=Yp4KaNPueDg&t=1426s





Komentar

Popular Posts

Emas Hitam di Labtek Biru: Teknologi Bersih Batubara melalui Biosolubilisasi

Paris Diary: Day 0

Cerita Tentang Mimpi: Kenikmatan yang Dilebihkan