Langsung ke konten utama

Metana : Gas Penghancur Perisai Bumi dan Pemanfaatannya Sebagai Energi Terbarukan #3

Jika anda pernah melewati wilayah Bandung, cobalah melaju ke arah jalan penghubung Kabupaten Sumedang - Bandung di mana anda akan menemui wilayah bukit dan pegunungan di sebelah kiri jalan. Lalu belokkan kendaraan anda ke arah Utara setelah Pasar Ujung Berung memasuki desa bernama Ciporeat. Teruslah menyusuri jalanan aspal yang masih terbilang layak karena tidak terlalu jauh dari pusat perkotaan. Naik dan turun berputar mengelilingi bukit. Bau mulai menyengat, air selokan berwarna kehijauan. Jangan menyerah ! Seandainya anda terus menelusurinya, anda akan menemukan banyak peternakan sapi rumahan yang tidak kalah baiknya dari Pangalengan. Disini anda dapat membeli susu sapi secara langsung fresh from the oven dengan harga yang sangat murah tentunya.

Pagi tadi, tepatnya 19 Agustus 2017. Delapan Orang anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (Himatek) ITB berkunjung ke desa tersebut. Bukan untuk membeli susu, melainkan ada misi khusus yang telah dilakukan empat tahun terakhir ini. Sembilan buah reaktor telah ditanamkan dalam kurun waktu tersebut. Hari ini dilakukan survei dan pengecekan lapangan untuk penanaman reaktor ke-10 beberapa bulan mendatang.

Saya menganggapnya hanya sebuah septic tank untuk menampung kotoran ternak-ternak sapi masyarakat desa di sana. Pandangan saya waktu itu bertahan selama berbulan-bulan. Proyek ini tidak ada bedanya dengan septic tank manusia. Pengalaman ini saya dapatkan ketika pada tanggal 12 Oktober 2016 lalu melalui live-in di desa binaan Himatek tersebut. Namun kini saya sadar, benda yang saya anggap septic tank ini telah memberikan kontribusi terhadap dunia !

Dokumentasi Community Development Himatek ITB

Pencemaran air di desa tersebut menjadi isu utama yang menggerakkan massa Himatek untuk melakukan sebuah aksi nyata di tengah masyarakat. Bukan karena limbah tekstil dengan berbagai warna nyentrik menyelimuti permukaan perairan dan kandungan logam beratnya yang dapat membunuh ekosistem, melainkan hanya kotoran sapi yang membuat sumber mata air dari atas berubah menjadi kehijauan dan berbau. Lembaga lingkungan hidup Amerika Serikat, Environmental Protection Agency (EPA) melalui National Water Quality Inventory Report to Congress pada tahun 2004 menjelaskan bahwa 40% aliran air sungai telah tercemar dengan penyebab utamanya berasal dari sektor agrikultur. Pada praktisnya, terlihat jelas bahwa pencemaran ini nyata dan banyak masyarakat menganggap remeh bahwa kotoran sapi tidak berpengaruh begitu besar karena merupakan bahan organik.

500 juta ton dari kotoran sapi dihasilkan setiap tahunnya. Dengan area yang terbatas dalam satu kandang di peternakan, tentu akan membuat kotoran padat dan urin dari sapi berkonsentrasi tinggi. Keberadaan limbah organik yang tidak terkontrol tersebut, secara kasat mata sudah terlihat dengan pencemaran air permukaan. Lebih dari itu, pencemaran air dalam tanah menjadi masalah yang lebih besar. Kotoran peternakan membawa nutrisi seperti Nitrogen, Fosfor dan Potassium. Meskipun terlihat menguntungkan karena menjadi kandungan utama dalam pupuk, penambahan zat tersebut secara berlebihan dapat mengganggu ekosistem. Nitrogen dan Fosfor di aliran permukaan dan bawah tanah sejatinya berasal dari kotoran peternakan. Dengan kadar yang berlebih, zat-zat ini dapat menyebabkan blooming alga yang dapat berpengaruh terhadap kadar oksigen terlarut dalam air sehingga ikan dan makhluk hidup lain dalam perairan tersebut terancam mati. 

Foto : Dokumentasi pribadi
Bagi manusia, tingginya kadar nitrat dalam air bukan hanya berakibat kepada perubahan rasa air tawar namun juga dapat menyebabkan methemoglobinemia atau blue baby syndrome. Selain itu, bakteri patogen E. ColiCryptosporidium, dan Coliform yang terbawa oleh kotoran peternakan, memiliki kemungkinan untuk menyebabkan 40 jenis penyakit terhadap manusia.

Masalah berantai dari sektor peternakan sudah lama diamati oleh para aktivis lingkungan. Selain pencemaran di air, gas yang dihasilkan dari proses biologis ini telah menjadi bom waktu bagi warga dunia. Metana yang tidak terkontrol menyebabkan efek rumah kaca yang dampaknya lebih luas dari sekedar pencemaran air.

Foto : Dokumentasi pribadi

Melalui divisi community development dibawah bidang pengabdian masyarakat, Himatek ITB telah mencoba memberikan solusi dengan menanamkan reaktor untuk menampung dan memanfaatkan gas Metana sebagai pengganti bahan bakar konvensional. Prosesnya sederhana, dengan memasukkan kotoran sapi yang telah diencerkan ke dalam reaktor tersebut dengan rutin, biogas akan langsung dialirkan melalui selang menuju dapur rumah warga.

Foto : Penulis yang juga anggota Himatek ITB

Ibu Icar, wanita paruh baya salah satu warga yang mendapatkan reaktor ini telah menghemat pengeluarannya untuk membeli gas LPG. Sebelumnya ia membeli gas LPG ukuran 3 kg dalam kurun waktu dua minggu sekali, namun setelah pemasangan reaktor bahan bakar kompor gas yang berasal dari gas alam tersebut baru habis dalam waktu tiga bulan. Hal ini juga dirasakan warga lainnya yang telah bersedia untuk dipasang reaktor biogas dengan proses yang terbilang simpel. Dampak negatif dari kotoran peternakan disana dapat diredam sedikit demi sedikit. Sebuah usaha konservasi energi di tengah masyarakat, tidak perlu menunggu dibangunnya industri besar dalam pengolahan kotaran sapi menjadi biogas untuk dapat merasakan manfaatnya.

Foto : Dokumentasi pribadi

Hal lain yang tak kalah bermanfaatnya yaitu kotoran kering yang telah lama berada dalam reaktor atau biasa disebut slurry. Setelah berminggu-minggu berada di dalam reaktor, kotoran-kotoran tersebut akan mengering dan hasilnya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk. Perbedaan mencolok antara kotoran kering dalam reaktor dan tidak dalam reaktor. Hal ini disebabkan oleh adanya proses anaerobik bakteri di dalam reaktor yang telah mengkonversi berbagai zat organik dengan kandungan yang jauh bertambah.

Sumber : Penn State Collage


Foto : Dokumentasi pribadi

Gambar diatas menunjukkan perbedaan kotoran sapi kering. Sebelah kiri merupakan kotoran kering pasca proses di dalam reaktor sedangkan gambar sebelah kanan merupakan kotoran yang dibiarkan di udara terbuka.

Pemanfaatan energi terbarukan seperti ini seharusnya dapat menjadi referensi bagi pemerintah untuk dapat berinvestasi di bidang energi terbarukan yang satu ini. Tidak seperti energi dari panas bumi yang membutuhkan investasi triliunan, satu buah reaktor hanya membutuhkan biaya tidak lebih dari tujuh juta rupiah yang berdampak langsung bagi masyarakat ataupun dapat ditampung dan dikemas sebagai pengganti gas LPG konvensional dengan memberdayakan masyarakat sebagai penggerak roda ekonomi.

Sektor peternakan ternyata hanya satu dari sekian banyak penyumbang emisi gas rumah kaca dan pencemaran air. Industri sawit ternyata juga banyak memberikan dampak negatif yang cukup besar

Bersambung...


Terima kasih penulis ucapkan kepada :
Community Development, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITB



Artikel #3 dari #15HariCeritaEnergi 
Berita terkait energi dan mineral, serta kebijakannya dapat diakses di https://www.esdm.go.id/id/

Sumber dan referensi :

EPA, 2004, National Water Quality Inventory Report to Congress

Diakses pada 19 Agustus 2017 : pukul 18:53

Diakses pada 19 Agustus 2017 : pukul 19:12

Diakses pada 19 Agustus 2017 : pukul 19:30

Diakses pada 19 Agustus 2017 : pukul 20:02

Diakses pada 19 Agustus 2017 : pukul 20:20

Komentar

Popular Posts

Mahasiswa Bidik Misi Makan di Mekdi (1)

Kumpulan Karya Ilmiah dan Essay #3