Langsung ke konten utama

Paris Diary: Day 1 [Part 1]

River Seine
Jika artikel sebelumnya saya menggunakan sudut pandang pihak pertama, di artikel kali ini saya memperkenalkan karakter lain yang mendampingi maupun sebagai orang yang mendapatkan kesempatan sama seperti saya yakni pemenang #15HariCeritaEnergi.

Yang pertama yaitu Yoga Pratama dari Pertamina RU V, kalau tidak salah pekerjaan Yoga merupakan operator unit hidrocracking di kilang minyak milik Pertamina di Kota Balikpapan tersebut, Yoga merupakan pemenang pertama. Kedua adalah Marlistya Citraningrum, Ph.D sebagai pemenang ketiga yang bekerja sebagai program manager di IESR (Institute for Essensial Service Reform), sebuah lembaga non pemerintahan yang bertugas mengawasi dan memberikan rekomendasi terkait kebijakan energi kepada pemerintah. Ketiga, saya sendiri sebagai pemenang kedua, detil tentang diri saya bisa dilihat di LinkedIn https://www.linkedin.com/in/luca-cada-lora-50b391117/ atau di bagian About/Tentang blog ini. Selain ketiga pemenang yang berangkat ke Prancis, kami didampingi dua orang pegawai KLI Kementerian ESDM yaitu Mba Khoiria dan Mba Dian.

Mungkin ada yang bertanya, bedanya juara satu, dua dan tiga apa dong, kok berangkat semua. Entah lah, emang gini wkwk untuk grand prize tidak ada yang beda sama sekali.

Day 1, Paris 08.00 a.m - 1.00 p.m
Bienvenue: Selamat datang
Pesawat Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ0336 mendarat di Bandar Udara Paris-Charles de Gaulle yang berjarak kurang lebih satu jam dari pusat kota Paris. Kami disambut oleh seorang driver bernama Vladimir yang khusus ditugaskan untuk menjemput kami di bandara untuk menuju penginapan dan KBRI. Untuk lima orang, saya rasa mobil sekelas Avanza sudah cukup untuk kami tumpangi. Ah ! ternyata ekspektasi kami sangat rendah, kami dijemput dengan sebuah mobil Mercedez Benz V-Class yang bodinya seperti Toyota Alphard. Ndeso ! Melihat interior mobil SUV yang begitu mewah dan kursi yang jauh lebih nyaman dibandingkan Mini Cooper.


"Vladimir, how long to reach our hotel ?", "About a hour". Vladimir begitu ramah, saya bercerita dan bertanya begitu banyak tentang transportasi maupun kendaraan yang saya lihat selama perjalanan. Terutama pengucapan merk kendaraan yang didominasi pabrikan Jerman. "I watched in youtube, german people pronounce the car name correctly to tell us that we are wrong, like Peugeot and Opel, how do you say". Vladimir mengucapkan nama-nama kendaraan itu dengan pengucapan yang kurang lebih seperti orang Indonesia pada umumnya. "It depends on your accent". Perjalanan dilanjutkan dengan cerita saya mengenai topik yang akan saya sampaikan di IEA nantinya, mengenai mobil listrik dan hubungannya terhadap penurunan emisi CO2. "Ah that's good ! We often see green clouds above Paris, like a fog, we scare if that poisonous". Vladimir bercerita mengenai keadaan udara di Kota Paris. "That's called photochemical smog, that is the same with in Jakarta but different color".

Saya terus berusaha berbicara dengan Vladimir, sekalian melatih speaking saya yang ecek-ecek dan medok ini. Sesekali saya terperangah dengan merk-merk mobil di sepanjang perjalanan seperti Renault, Volkwagen, Opel, Clio yang hanya sering saya lihat di game-game balap mobil serta Toyota Prius yang sebelumnya saya pelajari dan pakai data emisinya untuk simulasi emisi karena mobil ini berteknologi Hybrid, alias memiliki dua jenis motor penggerak, yakni motor listrik dan bakar. How lucky I am ! "Vladimir, how can I determine that the car is electric, hybrid or conventional", "You can see the special logo on real or beside the car, it has special sign, usually written Hybrid or Eco", "Ah, I see". Dan masih banyak lagi seperti biasanya dia mengisi bahan bakar di mana dan bedanya apa, karena saya melihat SPBU Shell, BP dan Total saling beriringan.
Hybrid Car: Toyota Prius
Kurang lebih satu jam perjalanan, tidak terasa sama sekali karena saya begitu menikmati jalanan yang begitu menarik perhatian. Sebelum kami menuju hotel, terlebih dahulu kami mengunjungi KBRI untuk laporan SPPD Kementerian terkait, dan selanjutnya kami menuju hotel.
KBRI Prancis. Dari kiri ke kanan: Yoga, Citra, Dian, Ria, Luca
Di perjalanan, Vladimir berkata "Luca, prepare your camera, I will let you take a picture for a while from the car, see the map, we are here and the eiffel is here. You can shot on this intersection". Ah ! Vladimir peka akan hal ini karena daritadi saya memegang tustel mirrorless. Vladimir dengan cekatan melakukan manuver pada bundaran di sebuah persimpangan. Sial ! Banyak yang menghalangi ternyata tapi saya mendapatkan satu jepretan bagus, meskipun terhalang oleh mobil.

"Nice shot ! hahaha". "Thank you, Vladimir". Kemudian Vladimir berkata bahwa kita akan memutari Eiffel tersebut dan bahkan memberhentikan mobilnya di sebuah tempat yang menjadi titik pusat wisatawan untuk mengambil gambar. "Fast, I will let you all to take a picture from that place, It's not parking area so be fast". Kami bergegas turun dan mengambil beberapa foto. Backlight ! Foto kami kurang bagus dan kami kembali ke mobil. Di belakang kami Mas Yoga tengah bercengkrama dengan penjual oleh-oleh yang ternyata mengenali wajah oriental kami. "Satu euro lima, satu euro lima", "lumayan Luc!, 1 euro dapet 6 gantungan kunci Eiffel". Dan kami berjanji akan kembali ke tempat tersebut, hari ini kami seharusnya banyak waktu senggang.

Perjalanan kami lanjutkan hingga menuju tempat peristirahatan, sebuah hotel bintang tiga yang terletak di pusat Kota Paris, Wallace Hotel. Sejenak saya terhenyak dengan daerah sekitar hotel ini, mengingatkan saya dengan berita di televisi pada November 2015, dengan sigap saya membuka gawai dan memastikan wilayah terjadinya peristiwa mengerikan tersebut. Syukurlah, ternyata berjarak 3 kilometer dari tempat kami menginap.


Satu kata, strategis ! Ngga kaget sewaktu melihat tarif hotel ini. €240 untuk satu malam, empat juta rupiah ! dua ratus meter dari hotel ada Subway, yang saya idam-idamkan karena ngga ada di Indonesia. Tiga ratus meter ada Carrefour, dan yang terpenting adalah menara Eiffel, cuma berjarak satu setengah kilometer. Ternyata kamar yang tersedia kurang sesuai ekspektasi saya hehe. Jelas karena otak saya masih cenderung mengkonversi euro ke rupiah. Bayangkan empat juta rupiah kalau di Jakarta sudah bisa menginap di Hotel Kartika Chandra dua malam dengan fasilitas mewahnya. Namun saya tetap bersyukur karena semua fasilitas ini gratis, ditanggung oleh penyelenggara, IEA. Kamar petar berukuran kurang lebih 3x3 meter ini akan saya tinggali empat malam kedepan. Foto di bawah saya ambil sewaktu akan checkout di hari terakhir, jadi agak berantakan.


Waktu menunjukkan pukul 12.15, kami menaruh koper, beristirahat sejenak, cuci muka dan berganti pakaian karena selanjutnya agenda pertama kami sudah harus dimulai di kantor pusat IEA.

Bersambung.


Bandung,
9 Mei 2018

Komentar

  1. Nais story Kak....ga sabar baca lanjutannyaaaa.... :-)

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Cara Legal Download Jurnal Elsevier dengan Akun Email Universitas

LKIR Yang Merubah Hidupku

Kumpulan Karya Ilmiah dan Essay #3