Langsung ke konten utama

Kasakata: Bukan Sekedar Media Menulis

https://blog.oxforddictionaries.com/2015/05/21/4-things-before-writing-essays/
Mungkin saya agak terlambat menemukan passion atau mungkin saya baru menyadari bahwa hal tersebut merupakan passion saya. Passion berbeda dengan hobi, berbeda pula dengan goal atau cita-cita. Ada seseorang katanya memiliki passion keliling dunia. Bukan, itu bukan passion tetapi adalah goal. Ada juga seseorang yang katanya memiliki passion bermain gitar. Bukan lagi, itu adalah hobi, bukan passion.

Dulu, saya mengira semua pekerjaan manusia berasal dari talent yang ia peroleh sejak lahir. Sebuah skill alamiah atau kodrat dia ketika hidup di dunia. Namun, semenjak memasuki kuliah saya menyadari bahwa kesuksesan sesorang bukan hanya berasal dari karunia-Nya. Sumber kesuksesan dapat berasal dari tiga aspek fundamental. 

Yang pertama adalah talent atau bakat. Kalau kata Instagram sih effortless beauty, alias dari sononya. Bakat merupakan karunia yang ditanamkan kepada diri seseorang, namun bakat juga harus dipantik untuk mencapai kesuksesan, tetap butuh effort. Seorang penyanyi yang memiliki suara merdu, itu bakat karena memiliki kelebihan yang orang lain tidak memilikinya. 

Kedua, kerja keras. Kerja keras mempu membawa seseorang menuju kesuksesannya, terlepas dari bakat yang ia miliki, atau bahkan tidak memiliki bakat sama sekali. Hal mudah untuk membandingkan bakat dengan kerja keras, search saja Ronaldo vs Messi the talent and the hardwork atau kata pencarian sejenisnya. Kerja keras mampu menaikkan derajat seseorang, kerja keras mampu merubah hidup seseorang, dan kerja keras mampu memberikan kebaikan terhadap orang lain.

Yang terakhir adalah do'a. Orang yang memiliki kepercayaan atau iman tentu percaya bahwa do'a merupakan hal penting yang dapat merubah nasib atau bahkan takdir seseorang (Takdir Yaumi). Saya seorang muslim, saya beranggapan bahwa do'a selalu berperang melawan takdir, di langit. Ibaratkan sebuah nilai akhir dari perkuliahan, do'a memberikan bobot tertentu untuk memberikan output berupa takdir. 

Menulis, Sebuah Investasi Karya

Saya memulai karir menulis sejak tahun 2013. Saya sebut karir saja ya, karena ini salah satu hal yang pernah menghasilkan 'uang' dan 'pekerjaan' bagi saya. Waktu itu saya masih kelas XI, sekitar bulan November 2013, secara sengaja saya mencabuti rumput yang ada di taman sekolah saya dan menciumnya. Aneh memang, saya cenderung mencium sesuatu yang menurut saya dapat membuat high hahaha ngga, bercanda. Anggap saja tidak sengaja begitulah biar seperti kebetulan. Ternyata rumput yang saya cium tersebut mendorong curiosity saya lebih jauh dan menuntut saya untuk menulis sebuah karya ilmiah untuk pertama kali, yang dapat anda unduh di tautan berikut berikut http://www.lucacadalora.id/2016/07/kumpulan-karya-ilmiah-dan-essay.html 

Kasus di atas saya klasifikasikan sebagai kerja keras karena menurut saya semua orang dapat melakukannya, bukan hanya saya. Namun yang menjadi perbedaan, terutama yang menentukan kesuksesan seseorang adalah seberapa tepat kerja keras tersebut. Syukurlah, sebab hal itu menjadi titik balik hidup saya hingga saat ini.

Jika dihitung secara keseluruhan, dari menulis saya mungkin sudah mendapatkan 70 hinggal 100 juta rupiah. Bukan hanya dalam bentuk uang, namun berupa fasilitas dan pengalaman selama empat tahun belakangan. Jadi ya, boleh dong ya jika saya sebut sebagai karir hehe.

Dan karya pertama saya di atas, membawa saya menulis di artikel ke-62 yang ada di blog ini. Sebuah pencapaian yang menurut saya cukup sulit karena banyak menyita waktu. Namun kok saya enjoy ya. Saya merasa nyaman melakukannya sampai-sampai saya baru sadar bahwa yang saya lakukan ternyata menyita waktu dan tidak masalah dengan hal tersebut. Itulah yang disebut Passion !!

Kasakata

7 Mei 2018 siang hari, seperti biasa rutinitas saya bermain gawai. Facebook-Twitter-Instagram saya buka secara simultan. Lini masa FB saya memunculkan postingan dari Iqbal mengenai tulisan di blognya tentang review tempat wisata di Kota Bandung. Saya baca artikelnya dan memberikan komentar seperti di gambar bawah ini.



Iqbal merupakan teman selantai saya sewaktu tinggal di asrama ITB, ketika tingkat satu perkuliahan. Cerdas dan rajin mungkin kata yang cocok dari saya waktu itu, ngga kaget waktu tau bahwa dia menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan PATRA ITB. Seseorang yang memberikan komando dan arahan di sebuah himpunan mahasiswa jurusan.

Iqbal jugalah yang memantik saya untuk mulai gemar membaca. Ya, saya sebenarnya sudah gemar membaca sejak SMP, namun semenjak kuliah saya hanya membaca artikel dan berita. Saya melihat Iqbal gemar sekali membaca novel, tentu yang bermanfaat yang biasanya non fiksi. Dari percakapan via kolom komentar FB saya membuat janji dengan Iqbal untuk bertemu, kiranya empat jam setelah saya berkomentar.

Di selang waktu tersebut saya banyak berpikir. Kok sepertinya semua ini sporadis. Kami ingin menyampaikan sesuatu, namun terkesan sendiri-sendiri yang akhirnya berdampak pada views yang sedikit. Sebenarnya ini masalah, beberapa penulis merasakan blocking karena distrupsi Vlog. Namun saya sendiri bodo amat. Saya menjadikan tulisan sebagai wadah pengembangan diri saya, baik intuisi maupun jam terbang sebagai investasi jangka panjang. Saya menuliskan gagasan saya di buku seperti berikut.


Tidak butuh waktu lama saya 'menghasut' Iqbal untuk ikut berkontribusi dengan gagasan saya di atas, alias se-visi. Sudah saya duga bahwa Iqbal akan menyampaikan keluhannya mengenai jumlah viewersnya yang sedikit. Beberapa hari kemudian saya ngobrol dengan kakak tingkat saya, "Mas, setelah kamu udah ga nulis di OA HIMATEK (OA Line Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITB), sekarang masih aktif nulis ngga ?". "Ah buat apa nulis Luc, toh dikit yang baca".

Sudah saya duga, sudah saya nyana, sudah saya prediksi hahaha semua orang akan bicara seperti ini, bahkan rekan saya yang blognya memiliki viewers lebih dari satu juta pun demikian. Sudah beda era bro, tahun 2000an era jayanya blogging !!

Ini masalah. Benar-benar masalah ketika melihat sesuatu dari manfaat jangka pendeknya. Oleh karena itu saya membangun sebuah sistem, Kasakata. Jika ditanya filosofisnya, ini plagiat kok. Saya males mikir dalam-dalam untuk sebuah nama. Saya teringat, rekan saya akan memulai Kerja Praktek di perusahaan PT. Kasa Kata Kimia yang ada di Bogor. Kasa Kata ini perusahaan yang memproduksi pewarna. Pewarna berarti mencerahkan, ya sudah sama dengan visi saya, ingin mencerahkan hahaha.

Sesimpel itu, yang penting jalanin saja dulu. Mengenai mekanismenya masih saya usahakan seramping mungkin. Namun yang pasti, Kasakata bukan seperti forum misalnya Kaskus yang dengan bebas memperbolehkan setiap orang untuk menulis. Saya akan mengapproach orang-orang yang memiliki minat lebih terhadap menulis, orang-orang yang memiliki pengalaman luar biasa namun belum bisa atau enggan menyampaikan pengalamannya, orang-orang yang berpengaruh bagi lingkungannya dan orang-orang yang expert di bidang keilmuannya untuk berbagi dan menebar manfaat.


Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis
13 Mei 2018. 




Komentar

Popular Posts

Berbisnis atau Berkarir [Penyesalan dalam Berbisnis di Masa Kuliah]

Working Space Budget Starter