Langsung ke konten utama

Digitalisasi Pengetahuan: Murah yang Harus Dibayar Mahal [Opini]


Tidak dapat dipungkiri bahwa informasi semakin mudah didapat sejak mulainya era globalisasi. Terlebih seiring meningkatnya teknologi jaringan internet beserta gawainya, informasi datang bertubi-tubi setiap milidetik di berbagai kanal. Namun tentu saja, tiap orang di antara kita memiliki interest baik topik maupun bidang dari suatu informasi, khususnya ilmu pengetahuan. 

Sebagai seseorang yang haus akan ilmu pengetahuan sewaktu SMA, rasa keingintahuan (curiosity) menjadi dorongan untuk terus menggali informasi. Masalahnya, saya waktu itu kebingungan harus memulainya dari mana. Katakanlah saya tertarik akan bidang astronomi, saya berusaha mencari informasi berupa artikel-artikel terkait astronomi seperti livescience.com yang sering saya eksplor waktu itu. Masalah lain timbul ketika saya berusaha mencari suatu permasalahan sekitar yang dapat dipecahkan, saya tentu tidak dapat mencari satu persatu informasi dan mencocokkannya dengan keadaan sekitar, tidak efisien !

Masalah di atas jika saya breakdown lebih jauh, sebenarnya kita membutuhkan sebuah keyword atau kata kunci yang mampu membawa kita dengan mudah menelusuri suatu topik khusus. Hal inilah yang membuat saya getol mengikuti seminar-seminar sewaktu SMA. Bahkan, saya sering menjadi satu-satunya peserta yang berstatus siswa. Saya teringat sewaktu menghadiri Simposium Mikrobiologi di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta, tepatnya pada akhir tahun 2013. Sebagai siswa SMA biasa, pengetahuan saya sebatas buku diktat dan intermezzo guru. Saya seakan seperti gelas kosong yang bocor, tidak mengerti sama sekali apa yang pembicara sampaikan. Paling tidak, saya mendapatkan seminar kit, berupa rangkuman hasil penelitian para pembicara.

Saya menemukan banyak kosakata baru. Adsorpsi, kitosan, logam berat dan lain sebagainya. Sebuah keyword yang ternyata membawa saya ke Amerika Serikat di tahun berikutnya dan tentu tidak pernah ada dalam benak saya waktu itu. Saya tahu bahwa informasi di internet itu murah, saya tidak perlu meluangkan waktu dan mengeluarkan biaya untuk mendapatkan keyword tersebut, namun ternyata pengetahuan lah yang membuatnya menjadi mahal, bukan kemudahan mencari informasi. Setidaknya, keyword adsorpsi membuka kepekaan saya terhadap bencana letusan Gunung Kelud yang berujung pada penelitian adsorpsi logam berat dengan abu vulkanik Gunung Kelud.

Lantas, apakah keyword tersebut harus saya bayar mahal ketika saya sudah menjadi mahasiswa tingkat 3 ? Tidak ! Semua dalam genggaman, berikut tips yang dapat saya rangkum


Facebook
Facebook (FB) mulai populer di kalangan netizen Indonesia mungkin pada tahun 2010an, karena saya sendiri juga baru membuat FB pada tahun 2010. Awalnya FB hanya saya gunakan untuk mendapatkan informasi dan berinteraksi dengan teman sejawat, khususnya teman SMP waktu itu. Namun sepertinya FB mulai sepi dan beralih ke Twitter dan dampaknya masih terasa hingga sekarang. "Kamu masih main FB?", "Masih ada ya yang buka FB?". Dalam hati saya kasihan dengan teman-teman yang berpendapat seperti ini. Tidak ada yang salah loh, tidak norak juga karena pengguna aktif FB ratusan juta. Yang jadi adalah seberapa bermanfaad feeds FB tersebut bagi diri kita. Berikut cara saya menjadikan FB sebagai ladang keyword

1. Tambahkan orang-orang penting sebagai teman. 
Misalnya seorang direktur perusahaan, peneliti, dosen dan orang yang aktif berkarya. Sebagai contoh, saya lampirkan screenshot laman orang-orang yang menginspirasi dan memberikan banyak informasi baik opini maupun fakta yang dapat saya manfaatkan sebagai keyword. Dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang mau membagikan pikirannya. Dr. Hasan Abdurakhman, Prof. Nurul Taufiqurrahman, Radyum Ikono, Prof. Oki Muraza dan lain-lain. Ini baru warga Indonesia, belum orang luar yang mungkin sudah anda kenal atau sekedar follow.

Pak Bob Sulaeman yang memperjuangkan teknologi PLTN di Indonesia
Pak Erwin yang sering membagikan hasil risetnya


Karan Jerath, Forbes 30 under 30, Runner up Intel ISEF 2015
2. Follow halaman dan grup yang memberikan konten secara berkala
Tidak dapat dipungkiri, FB menjadi website yang banyak dikunjungi orang karena kontennya yang bermacam-macam. Uniknya, konten ini bukan dibuat oleh pihak FB, namun para konten kreator dengan laman-laman milik mereka. Gratis ? Ya. Namun ada hal yang sedikit menyebalkan ketika halaman tersebut memasang iklan. Tidak masalah toh kita setiap menonton televisi pasti ada iklan juga, bukan ?

Beberapa halaman atau pages yang saya ikuti antara lain: Now This, Business Insider, Tech Insider, Science Channel, Nas Daily, Interesting Engineering dan lain-lain. Terlalu banyak jika saya sebutkan di sini. Semua video maupun artikel yang mereka bagikan, dapat menjadi keyword baru !

Seseorang membagikan video mengenai teknologi ICE yang dapat mengatur rasio kompresi dengan sendirinya


Twitter
Penah main twitter ? tentu pernah dong. Media sosial satu ini sangat populer di kalangan remaja Indonesia sekitar tahun 2012 an. Namun lambat laun ternyata Twitter ditinggalkan. Eits ! yang ninggalin tuh kita-kita aja kalik, lainnya masih rame ! Buktinya tagar populer masih ada saja

Twitter menjadi media yang efektif bagi pemilik sumber berita untuk menggapai views. Tidak perlu saya jelaskan panjang lebar inti dari bahasan ini karena jelas sama seperti kasus FB di atas. Apa yang anda follow akan memengaruhi kualitas feeds.

Pengalaman menarik saya dapatkan ketika ujian mata kuliah Pengendalian Proses Kimia, dengan soal memberikan contoh sebuah proses kimia yang memanfaatkan sistem pengendalian (kontrol) tertentu. Tentu soal ini merupakan masalah open ended karena setiap orang bisa saja beda, yang menurut saya akan mudah dikerjakan apabila banyak membaca buku diktat. Sayangnya, saya tidak begitu rajin dalam membaca diktat halaman demi halaman. Untungnya, saya pernah membaca suatu artikel khusus mengenai upgrading naftha. Sebuah investasi keyword !!



LinkedIn
"Ah apa sih, LinkedIn kan untuk orang cari kerja". Itu yang ada dalam benak saya dua tahun lalu. Saya buat LinkedIn, connect ke teman atau orang penting lainnya, sudah selesai. Ternyata lebih dari itu ! Sama seperti FB dan Twitter, saya ga perlu jelasin panjang lebar.

Tidak seperti sosial media lainnya, menurut saya LinkedIn merupakan media profesional yang harus sangat hati-hati dalam penggunaannya. Tidak sembarangan konten dengan mudah disebarkan, karena menunjukkan kepribadian seseorang.




Aplikasi Handphone

Begitu banyak aplikasi baik di Android maupun iOS yang dapat digunakan untuk mencari informasi, baik berbayar (subscribe) maupun free. Untuk informasi berkualitas tentu akan berbayar, seperti kompas.id, NYT, WSJ dan lain-lain. Saya menginvestasikan sebagian uang saya untuk hal seperti ini. Contohnya berlangganan kompas.id selama setahun dengan biaya sekitar lima ratus ribu rupiah tiap tahun, WSJ $1 untuk tiga bulan pertama dan beberapa media informasi lainnya.



Penutup

Masih banyak media-media yang secara efektif memberikan pengetahuan. Murah adalah kata kunci utama yang tidak harus dibayar mahal seperti waktu untuk seminar ataupun simposium jika "hanya" digunakan mencari sebuah keyword. Sosial media memberikan begitu banyak peluang keyword bagi anda yang haus akan informasi yang siapa tahu akan berguna di masa depan. Masih banyak media sosial yang bermanfaat seperti YouTube, Tumblr, Reddit dan lain-lain.

Informasi semakin mudah di dapat, tapi ingat bahwa informasi kita di dunia maya juga bermanfaat untuk sebagian korporat. Gunakan secara bijak dan ketahui dampaknya



Bandung,
10 Mei 2018

Komentar

Popular Posts

Berbisnis atau Berkarir [Penyesalan dalam Berbisnis di Masa Kuliah]

Working Space Budget Starter