Langsung ke konten utama

Liburan Sebulan di Kampung Halaman dengan Pendapatan 350 Juta #3

Balik ke topik utama. Perlu digarisbawahi kata Pendapatan disini. Pendapatan yang dimaksud disini adalah bruto atau penghasilan kotor, jadi ya sudah dicampur dengan modal awalnya. Satu lagi, tujuan ditulis artikel ini hanyalah sharing bahwa peluang bisa datang kapan saja dan dimana saja. Untuk siapapun, tanpa terkecuali

Bisnis penjualan hardware komputer merangkak naik di grup/forum jual beli facebook diiringi kenaikan harga koin digital Bitcoin. Apa hubungannya ? Basic, Bitcoin diperoleh dengan kerja hardware khusus atau VGA yang diperuntukkan menambang coin. Ahh ruwet ya, lihat video ini saja


Intinya adalah, permintaan akan komponen komputer semakin naik dari hari ke hari, khususnya VGA card sebagai kuli tambang digital. Saat nilai bitcoin mencapai 35 juta rupiah 2 bulan lalu, saya ikut-ikutan dengan alasan investasi. Bagaimana tidak, komputer ditinggal seharian kitanya dapat duit, Ez money... Dengan bermodalkan VGA AMD RX 550 4GB seharga 1.320.000 sebanyak 3 buah. Ekspektasi penghasilan per hari mencapai 90 ribu rupiah. 2 Bulan udah balik modal, usaha yang menggiurkan bukan ? Namun saya mulai menciup ketidakberesan disini. Nilai yang semakin turun yang disebabkan difficulty algoritma sehingga ekspektasi tersebut menurut drastis. Dua minggu berselang, saya menjual aset mining saya dengan mendapatkan sisa tambang sebesar 960.000. Kenapa tidak diteruskan ?

Pesanan tiket mudik saya waktu itu pada tanggal 17 Juni 2017. Dengan melihat kondisi forum jual beli di facebook dan toko online lainnya, insting saya berkata "Mulailah". Penjual VGA mulai bertebaran dengan harga yang fantastis, diatas harga baru ! padahal mereka belinya bekas. Modal yang saya keluarkan pertama kali adalah 1 buah VGA RX 470 8GB yang saya beli dari teman saya, Yusuf seharga 3.450.000 dengan nota beli yang dia sodorkan seharga 3.100.000 pada bulan April. Udah bekas, untung lagi, ada anomali disini. Demand yang meningkat eksponensial tidak dibarengi dengan supply yang terhambat oleh Red Line dari kementerian keuangan yang beranggapan bahwa dapat mengganggu kestabilan ekonomi untuk sementara waktu. Ahh itulah saatnya saya mengambil tindakan Mulai !

VGA seharga 3.450.000 tadi saya bawa pulang ke Solo dengan keadaan tanpa pemesan. Artinya, saya mengambil risiko barang ini akan laku atau tidak. Tak dikira, pembeli pertama berasal dari Solo dan dibayar tunai sebesar 4.300.000 di rumah saya. Shiieeettttt barang bekas naiknya fantastis !!

Hard demi hari saya habiskan didepan laptop saya untuk berburu user yang melego barangnya, tent dengan lobi maut agar dapat melepas barangnya dengan harga seminimal mungkin. Pagi, siang, malam saya pantengin facebook, tokopedia, bukalapak, kaskus, olx. Namun, margin per VGA tidak dapat disamaratakan seperti diatas. Saya mematok 10 persen keuntungan, namun pada kenyataannya keuntungan bisa bervariasi mulai 5 hingga maksimal 20 persen. Kembali pada berpikir investasi tadi, keuntungan usaha yang ideal adalah diatas 18 persen dalam satu tahun. Lah ini 20 persen dalam 2 hari, gas dong ya.



Tentu semua tidak datang dengan sendirinya, perlu effort marketing yang kuat dengan memanfaatkan sosial media semaksimal mungkin dan fitur-fitur andalan e-commerce. Saya membakar 600.000 hanya untuk menaruh iklan saya dibagian promosi tokopedia. Wasting money ? No, hanya sebuah cara lain untuk mempercepat perputaran uang saya. Dengan modal hanya 50.000.000 waktu itu, saya berhasil menyulapnya dengan cash flow sebesar 350.000.000 di rumah tanpa kesibukan lainnya karena kebetulan sedang liburan semester.

Banyak kawan, banyak rezeki. Ini benar sekali adanya. Pada prakteknya, untuk mendapatkan VGA dengan harga yang miring, penjual hanyak ingin COD (Cash on Delivery). Kendalanya adalah, saya sedang ada di Solo, penjual ada dimana-mana. Contohnya untuk pembelian VGA di jakarta, saya meminta tolong teman saya yang kiranya sedang stanby disana untuk menjadi perantara kami. Mau ? Mau dong kan ada upahnya. Tentu saya tidak tanggung-tanggung dalam memberi fee kepada mereka. Minimal cepek buat rasa terima kasih kepada mereka yang sudah menjembatani transaksi yang mustahil saya lakukan sendiri. Yang paling ekstrim sih teman dari Tangerang, COD di Central Park, Jakarta Barat



Keadaan saat ini, pasar mulai stabil dan permintaan sudah mulai menurun tidak seekstrim pra dan pasca lebaran. Tentu saya sudah bersiap dengan hal ini dengan tidak memaksa untuk membeli barang yang saya pikir sudah tidak gampang laku lagi. Peluang dan sustain bisnis seperti ini ? Kenapa tidak jika insting berkata


Komentar

Popular Posts

Mahasiswa Bidik Misi Makan di Mekdi (1)

Kumpulan Karya Ilmiah dan Essay #3