Langsung ke konten utama

Thailand: Asia's Best Country for Adventure #1


Life is short and the world is wide. Quote tersebut pernah pernah sedikit memotivasi saya sewaktu SMA untuk keluar dari Indonesia untuk sekadar melihat bagaimana kondisi luar dengan mata dan akal pikiran sendiri. Pada akhirnya, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Pittsburgh dan Paris dengan waktu masing-masing kurang dari satu minggu, itupun dengan berbagai beban dan tanggung jawab yang ada. Cerita tentang Paris sudah saya coba tuliskan namun belum tuntas, apalagi tentang Pittsburgh yang entah kemana memori kenangan itu disimpan. Untuk itu, saya coba menulis pengalaman trip saya ke Thailand secara langsung meskipun dengan keterbatasan gawai karena saya tidak membawa tablet maupun laptop untuk trip ini.

Life is short and the world is wide
Trip ke Pittsburgh dan Paris merupakan kegiatan kompetisi dan undangan kunjungan, yang artinya semua biaya akomodasi dan mata acara sudah terangkai. Saya tetap menikmati, meskipun tidak begitu bebas mengeksplorasi sesuai keinginan sendiri. Dari situ pun saya mulai menanamkan mimpi, saya ingin menjadi seorang solo traveler. Saya sendiri tidak begitu yakin dengan mimpi tersebut, mengingat tidak adanya sifat supel dalam diri saya. Apalagi, waktu saya sedang berdialog dengan seorang native dan saya tidak dapat mengerti apa yang ia maksudkan karena skill listening saya yang cukup parah, saya sering mati gaya !
Untuk trip saya ke Thailand, hal ini sama sekali tidak saya rencanakan karena saya belum berani solo travelling. Saya hanya menunggu momen ketika ada teman yang akan berkunjung ke luar negeri baik traveling maupun kompetisi. Pernah waktu itu saya mencoba untuk ikut ke Singapore ketika ada gelaran event Shell Eco Marathon di bulan Maret 2018, sialnya ketika saya sudah membeli tiket dan kamar penginapan paspor saya malah sedang verada di kedutaan prancis untuk pengurusan visa dan akhirnya semuanya batal, tiket pesawat untungnya bisa direfund.

Delapan bulan kemudian, teman sekaligus rekan kerja saya, Darwin dan Riki, menginformasikan bahwa ia dan temannya akan memiliki agenda trip ke Thailand. Mereka merupakan asisten salah satu dosen di ITB dan sangat beruntung karena mendapatkan paket liburan dari dosen tersebut, semacam bonus akhir tahun. Jadilah saya ikut dengan mereka. Saya sendiri baru membeli tiket pesawat dan booking hotel untuk 4 hari 3 malam.
Persiapan
Perlu 3,5 jam dengan pesawat untuk mencapai Bangkok dari Jakarta. Maskapai yang umum digunakan yaitu Thai Lion dengan harga berkisar 1,5 hingga 3 juta rupiah. Jika memilih waktu yang tepat saat pemesanan, harga tiket bawah 750rb untuk sekali jalan bisa didapatkan. Namun karena waktu itu saya cukup mendadak, biaya yang saya keluarkan untuk pulang-pergi sekitar 2,15jt rupiah. Tips esensial untuk mendapatkan tiket termurah yaitu dengan mengeceknya di skyscanner.com. Untuk penginapan, jika perlu menghemat budget, hostel merupakan solusi terbaik. Saya memesan hostel di Bangkok dengan tarif 130rb per malam dan hotel di Pattaya dengan tarif 300rb per malam. Untuk persiapan berangkat, saya merogoh kocek 2,7jt rupiah.

Di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta
Karena kami berniat untuk menjadi backpacker, kami hanya membawa tas ransel yang berisi pakaian dan hal esensial lainnya. Say pribadi membawa carrier 40L berisi pakaian dan tas ransel biasa untuk dokumen dan tempat kamera. Mungkin rada aneh menggunakan tas ransel kemana-mana, namun belajar dari pengalaman di Paris yang pernah kecopetan karena menggunakan tas kecil membuat saya masih sedikit menyimpan trauma.
Petualangan 4 hari 3 malam di Thailand pun dimulai, kami membagi waktu di hari pertama dengan destinasi ke Pattaga, kota yang memiliki teluk eksotis yang berjarak 2 jam dari Kota Bangkok. Selanjutnya, di hari kedua dan ketiga kami akan berada di Kota Bangkok
Kedatangan
Pesawat yang kami tumpangi tiba di bandara internasional Don Mueang yang terletak di pusat kota Bangkok. Kami tiba pukul 23.00 dan keluar dari imigrasi satu jam kemudian. Mau ngga mau kami harus menunggu pagi hari karena bus yang akan kami tumpangi menuju Pattaya baru tersedia pukul 06.00. By the way, tidak ada perbedaam waktu antara Jakarta dan Bangkok hanya saja di sini jam setengah 06.00 baru terbit fajar.
Tidak ketinggalan, kami harus mempersiapkan akses internet selama singgah di Thailand. Dibandingkan dengan Roaming paket data yang mencapai 200rb rupiah, kami memilih menggunakan pocket wi-fi dengan tarif 80rb per hari dengan data unlimited, itupun masih dibagi bertiga sehingga rata-rata satu orang menghabiskan 25-30rb rupiah, but totally worth it meskipun dengan deposit 2000 baht (900rb rupiah).



Selanjutnya beristirahat di tempat duduk yang tersedia, mengisi energi untuk bertualang ketika matahari telah terbit.


The adventure begins
Kami bangun pukul 05.00 dan bersiap untuk menuju ke Mo Chit Bus Terminal. Untungnya, di Thailand tersedia layanan Grab, jika tidak kami harus menunggu bus ba dara yang baru mulai beroperasi pada 06.30. Jarak 15 kilometer kami tempuh dengan Grab Car sekitar 15 menit dengan tarif 231 Baht (102rb rupiah). Cukup mudah karena chat dalam aplikasi Grab otomatis ditrasnlate ke bahasa yang digunakan oleh driver meskipun komunikask langsung dengan native Thailand cukup sulit.
Setiba di terminal bus, kami memesan bus menuju Pattaya dengan tarif 117 Baht (52rb rupiah).



Suasana terminal bus di sini tidak berbeda jauh dengan Indonesia, tapi yang pasti lebih tertata dan bersih apdahal tidak banyak tempat sampah yang tersedia. Mau tidak mau kami selalu memasukkan sampah ke dalam tas terlebih dahulu.

Hal yang saya dapatkan selama perjalanan yaitu kemewahan infrastruktur yang ada di kota ini baik jalan tol, jalan layang hingga jalan raya biasa. Semua tertata rapi dan proporsional untuk banyaknya kendaraan yang ada. Satu lagi, langitnya selalu biru, tidak banyak polusi di langit Kota Bangkok.
Pattaya
Setibanya di Pattaya city, kami memesan Grab Car untuk menuju ke penginapan yang berjarak sekitar 5 kilometer dengan tarif 230 baht (100rb rupiah, 1 baht idr 445). Penginapan kami terletak di dekat pantai dengan tarif 300 ribu per malam. Di sini keberuntungan kami datang. Kami mendapatkan seorang driver yang menawarkan dirinya untuk menjemput dan mengantarkan kami kemana saja dengan tarif sesuai dengan Grab sengan potongan 50 baht. Mobilnya pun sekelas Ford Ranger.

Kiri: Darwin; Kanan: Riki


Pemandangan dari atap hotel
Kami menuju penginapan untuk check in pada pukul 10.00 pagi, untungnya mereka mau menerima padahal belum pukul 14.00 yang biasanya merupakan waktu awal check in. 30 menit kami menaruh barang dan mempersiapkan apa yang bisa dibawa.

Floating Market
Dari hotel kami menuju floating market yang berjerak sekitar 7 kilometer dari penginapan kami. Tiket masuk bertarif 200 baht (90rb rupiah) dan 900 baht (400rb rupiah) jika menginginkan fasilitas seperti naik perahu dayung, flying fox, serta berfoto dengan pakaian adat. Kami memilih tarif 200 baht karena hanya ingin melihat dan cari makan saja.









Makanan ringan yang kami coba di sini ada camilan kepiting goreng dengan harga 100 baht (45rb rupiah), lalu semacam es teler yang disajikan di atas batok kelapa dengan harga 50 baht (24rb rupiah).
Suasana di floating market ini layaknya di pasar tradisional dan tidak semodern floating market di Lembang, bahkan saya sendiri pun belum pernah berkunjung ke floating market Lembang. Bedanya, di sini bebas membawa makanan masuk, harganya juga masuk akal. Di setiap penjual pasti menuliskan harga makanannya.



Setelah puas berkeliling 3 jam, kami santap siang di wilayah belakang floating market ini yaitu di area food park. Adapun menu yang kami beli yaitu martabak telor seafood 50 baht (23rb rupiah), rujak mangga (60 baht 27rb rupiah) longan dan pandan ice 20 baht (9000 rupiah per gelas). Sangat murah bukan ?


Waktu menunjukkan pukul 14.00 dan kami dijemput driver grab bernama Kittaporn yang menjanjikan bisa antar jemput tanpa menggunakan aplikasi. Namun sebelum itu, saya mencoba membeli Thai Tea yang legendaris itu di kafe dekat dengan floating market. Meskipun kafe, harganya begitu masuk akal di kantong mahasiswa berkisar 20-40 ribu rupiah.


Pattaya Beach
Kami menuju hotel dari floating market pukul 14.00 dan tiba 14.20 dengan tarif 300 baht (140rb rupiah). Ruas jalan utama tidak begitu jauh dengan Indonesia, malah jarang ada polisi.
Setelah bersiap, kami berjalan di pesisir pantai Pattaya untuk menuju view point, dataran tertinggi di wilayah ini untuk dapat melihat seluruh kota dari ketinggian. Kami berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer di trotoar pinggir pantai. Ternyata, museum Ripleys Believe it Or Not ada di daerah sini, acara tv yang biasanya ada di ANTV waktu pagi dan malam.






Untuk menuju puncak view point, kami mengendarai Songthaew, transportasi umum setara dengan angkot. Tarif umumnya adalah 10-30 baht. Pemandangan dari atas view point sangat menakjubkan, terlihat banyak kapal dan gedung-gedung tinggi yang tertata rapi di sepanjang jalan pinggir pantai.







Turun dari view point sekitar pukul 18.30, kami menuju Walk Street, sekelas dengan braga kalau di Bandung. Street food di Thailand memang tidak ada duanya, harganya murah dan enak. Ayam goreng dijajakan di jalanan ini berkisar antara 15-40 baht. (7rb - 18rb rupiah)



Dari walk street kami menyusuri jalan sepanjang tepi pantai untuk menuju Central Marina Mall yang berjarak 2 kilometer dan kami tempuh selama satu jam. Selama berjalan kali, kami terus membeli makanan-makanan ringan.


Tiba di Central Marina Mall, kami berkeliling dan tentu saja berbelanja apa yang lebih murah



Mata saya tertuju pada Nike Warehouse store yang menjual produk ekspor dari Indonesia yang tentu saja dengan harga dibawah retail


Setelah puas berjalan jalan berjalan sehari penuh, kami kembali ke penginapan untum istirahat dan berlanjut esok hari pukul 08.00 ke Kota Bangkok.

Komentar

Popular Posts

Kumpulan Karya Ilmiah dan Essay #3

Teknologi Membran Pada Industri Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Batubara

Cara Legal Download Jurnal Elsevier dengan Akun Email Universitas